Dampak Progres Damai AS-Iran, Harga Minyak Dunia Terkoreksi

AS-Iran (FOTO: NET)
Penulis: Talita Malinda
Selasa, 23 Juni 2026 | 16:02:44 WIB

HONG KONG - Harga minyak dunia terpantau merosot pada perdagangan hari Senin (22/6) seiring munculnya optimisme terkait negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran, di mana pihak mediator mengindikasikan adanya rencana strategis menuju kesepakatan final.

Di sisi lain, mayoritas pergerakan saham justru merangkak naik berkat performa positif yang kembali ditunjukkan oleh emiten-emiten di sektor teknologi.

Setelah agenda pertemuan pada hari Jumat (19/6) sempat tertunda akibat pecahnya bentrokan antara pihak Israel dan Hizbullah, proses negosiasi tersebut akhirnya resmi dimulai pada hari Minggu (21/6) di Swiss melalui delegasi yang dipimpin oleh Wakil Presiden AS JD Vance bersama Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf.

Para pelaku pasar terpantau menjaga sentimen positif mereka setelah beredarnya kabar bahwa kedua negara yang saling berseteru tersebut telah menyudahi konflik, yang sebelumnya sempat memicu lonjakan harga energi, mengatrol angka inflasi, serta menimbulkan kecemasan mendalam pada roda perekonomian dunia.

Kekhawatiran awal sempat mencuat menyusul adanya laporan terkait langkah Iran yang membatalkan diskusi setelah Presiden AS Donald Trump melayangkan ancaman serangan lanjutan jika Hizbullah tidak menghentikan gempuran ke Israel.

Namun demikian, pihak penengah dari Pakistan serta Qatar mengonfirmasi bahwa jalannya perundingan tersebut berlangsung dalam "suasana positif dan konstruktif".

Situasi pasar semakin kondusif sewaktu Qatar dan Pakistan mempublikasikan adanya progres positif yang ditargetkan untuk meredam isu program nuklir Teheran sekaligus mengoperasikan kembali Selat Hormuz, kawasan perairan yang menjadi jalur perlintasan bagi seperlima pasokan minyak dan gas global.

Keduanya mengatakan AS dan Iran sepakat membangun "jalur komunikasi" guna menghindari insiden di jalur perairan penting tersebut, dan "Komite Tingkat Tinggi telah menyepakati peta jalan menuju tercapainya kesepakatan akhir dalam waktu 60 hari, meletakkan dasar untuk segera dimulainya pembicaraan teknis lebih lanjut".

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menambahkan di X, bahwa "mediasi telah memberikan kemajuan besar untuk mengakhiri Perang Lebanon".

Dua acuan minyak utama dunia bergerak melemah pada sesi awal perdagangan, kontras dengan pergerakan mayoritas pasar modal yang justru mencatatkan pertumbuhan positif.

Bursa Tokyo sukses menguat hingga dua persen, bursa Seoul merosot naik melampaui satu persen, sedangkan bursa Taipei melonjak tajam hingga 2,7 persen.

Tren penguatan ini didorong oleh aksi beli lanjutan pada saham-saham sektor teknologi, terutama para emiten produsen cip seperti SK hynix asal Korea Selatan, TSMC asal Taiwan, hingga Advantest dari Jepang.

Zona hijau juga terlihat pada bursa Sydney, Wellington, dan Jakarta, walaupun koreksi minor harus dialami oleh bursa Hong Kong, Shanghai, serta Singapura.

"Menyusul respons positif pekan lalu terhadap laporan gencatan senjata AS-Iran, pasar kemungkinan akan dibuka dengan nada hati-hati untuk memulai pekan baru karena masih jelas bahwa situasi di Timur Tengah tetap rapuh," kata Skye Masters dari National Australia Bank.

"Dollar kemungkinan akan tetap menguat, harga minyak bisa berfluktuasi ke arah mana pun, tetapi pada level saat ini risikonya adalah kenaikan lebih tinggi."

Mata uang poundsterling terpantau masih berada di bawah tekanan pasar setelah diterpa aksi jual massal seiring kemenangan politisi Partai Buruh Inggris, Andy Burnham, pada pemilu hari Kamis yang memperkuat spekulasi bahwa dirinya akan menggeser posisi Perdana Menteri Keir Starmer yang posisinya sedang goyah.

Starmer yang sedang menghadapi tekanan ini "diperkirakan pada hari Senin akan mengumumkan akan mengundurkan diri sebagai perdana menteri setelah tekanan luar biasa dari anggota parlemen Partai Buruh untuk memberi jalan bagi Andy Burnham", demikian menurut surat kabar Guardian.

Para penanam modal mengkhawatirkan jika Burnham nantinya bakal menerapkan regulasi pengeluaran baru yang berisiko memperlebar tumpukan utang luar negeri negara tersebut yang saat ini sudah sangat membengkak.

Reporter: Talita Malinda