Perkuat Transisi Energi, RI Genjot Pengembangan Sistem Penyimpanan

Pembukaan EESA Summit Indonesia. ( Sumber : NET )
Penulis: Talita Malinda
Rabu, 10 Juni 2026 | 12:48:56 WIB

JAKARTA – Sebagai negara kepulauan terbesar, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam mempercepat pemanfaatan energi terbarukan.

Ambisi pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 100 GW sesuai peta jalan nasional tidak hanya memerlukan pembangunan pembangkit, tetapi juga sistem kelistrikan yang lebih modern dan fleksibel.

Teknologi penyimpanan energi (energy storage system/ESS) serta sistem jaringan listrik mandiri (microgrid) dipandang sebagai elemen kunci untuk menjaga keandalan pasokan, terutama karena energi surya dan angin bergantung pada kondisi cuaca.

Pandangan tersebut mengemuka dalam EESA Summit Indonesia 2026 yang mempertemukan regulator, pelaku industri, investor, serta penyedia teknologi dari Indonesia dan Tiongkok untuk membahas ekosistem penyimpanan energi nasional.

Harris, Sekretaris Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, memaparkan kebijakan pemerintah dalam mendorong teknologi penyimpanan energi, termasuk regulasi investasi dan peta jalan transisi energi.

"Peran penyimpanan energi adalah meminimalkan dampak intermitensi energi terbarukan, menstabilkan sistem kelistrikan, mendukung mikrogrid, serta melakukan load shifting," ujar Harris, Selasa (9/6).

Kehadiran sejumlah perusahaan teknologi asal Tiongkok mencerminkan penguatan kerja sama kedua negara dalam teknologi energi bersih.

Dalam sesi mengenai arah kebijakan pasar penyimpanan energi, Koordinator Keteknikan dan Lingkungan Direktorat Energi Terbarukan Kementerian ESDM, Hery Ferdiansyah, menjelaskan kebijakan pemerintah guna membuka peluang kolaborasi global demi mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060.

Seminar ini turut menghadirkan Peng Yi dari Cornex New Co., Ltd., Michael dari Shenzhen Megarevo Technology Co., Ltd., serta Riko Sugiyanto dari Shenzhen Topband Co., Ltd., yang berbagi pengalaman mengenai teknologi penyimpanan energi dan sistem kelistrikan cerdas.

Teknologi tersebut dinilai relevan untuk menjawab tantangan elektrifikasi di wilayah terpencil, kepulauan, dan daerah dengan keterbatasan jaringan listrik di Indonesia.

Dukungan terhadap energi terbarukan juga disampaikan Executive Vice President Power Plant Procurement and IPP PT PLN (Persero), Nico Samuel Saroinsong, yang memaparkan berbagai proyek energi terbarukan yang dikembangkan PLN.

Sementara itu, Jason Zhao dari Resource Electric Tianjin Ltd menjelaskan solusi teknologi untuk mendukung sistem penyimpanan energi di Indonesia.

Pembahasan berlanjut pada penguatan industri nasional melalui kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), yang dipaparkan oleh Ketua Tim P3DN Kementerian Perindustrian, Dessy Lusyana.

Perspektif industri terkait strategi usaha patungan disampaikan oleh Presiden Direktur PT PLN Indonesia Power Renewables, Hendry Asdayoka Putra, bersama Senior Strategic Development PT Timur Assets Indonesia, Maxine Gao.

Isu pemerataan akses listrik di wilayah kepulauan menjadi fokus sesi mengenai inovasi operasional dan pendanaan microgrid.

Koordinator Percepatan Penyediaan Infrastruktur Listrik Desa dan Kemasyarakatan Kementerian ESDM, Nur Hadiyanto, menjelaskan strategi pemerintah dalam memperluas akses listrik ke daerah terpencil.

Pembahasan ini relevan mengingat target pemerintah dalam program Listrik Desa (Lisdes) di 2.065 lokasi pada tahun 2026.

Pengalaman implementasi proyek microgrid di lapangan disampaikan oleh VP Reliability & Asset Integrity Management PT Pertamina NRE, Priambudi Pujihatma, serta Managing Director PT Roche Energi Powerindo, Charlie.

Sesi penutup menyoroti pentingnya skema pembiayaan berkelanjutan untuk mempercepat implementasi proyek penyimpanan energi.

Rene Duan, Sekretaris Jenderal EESA, memaparkan pengalaman Tiongkok dalam model pembiayaan skala besar, sementara Rendra Firmansyah dari PLN bersama Jessica Rolindrawan dari PT Alam Energy Renewables membahas kelayakan proyek dan pengelolaan risiko.

Lembaga internasional seperti IFC, melalui Woo Yong Lee, turut menjelaskan persyaratan agar proyek energi bersih di Indonesia dapat menarik pendanaan global.

Sementara itu Rene Duan menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pemangku kepentingan yang berpartisipasi dalam EESA Summit Indonesia 2026.

"Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam mengembangkan energi bersih. Melalui EESA Summit Indonesia ini, kami berkomitmen untuk terus menjadi jembatan kerja sama antara Tiongkok dan Indonesia sehingga dapat mewujudkan sistem energi masa depan yang andal dan ramah lingkungan," ujar Rene.

Sinergi pemerintah, industri, dan penyedia teknologi diharapkan mampu mempercepat sistem kelistrikan yang lebih bersih, stabil, dan berkelanjutan.

Teknologi ESS dan microgrid dipandang bukan hanya sebagai solusi teknis, melainkan fondasi penting dalam mewujudkan kemandirian energi di seluruh wilayah kepulauan Indonesia.

Reporter: Talita Malinda