KAI Perkuat Transisi Energi Bersih Lewat 113 Unit PLTS

PT Kereta Api Indonesia. ( Sumber : NET )
Penulis: Talita Malinda
Rabu, 10 Juni 2026 | 10:13:00 WIB

JAKARTA - Di tengah meningkatnya permintaan energi nasional, isu keberlanjutan kian krusial bagi operasional perusahaan.

Energi dipandang sebagai kebutuhan operasional sekaligus wujud tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan.

Perspektif ini memacu PT Kereta Api Indonesia (Persero) untuk terus memperluas penggunaan energi baru terbarukan melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di berbagai fasilitas perusahaan.

Langkah tersebut dimulai sejak tahun 2022 dan terus berkembang seiring komitmen KAI dalam mendukung agenda transisi energi bersih di tanah air.

Hingga Juni 2026, KAI telah membangun 113 unit PLTS dengan kapasitas total mencapai 4.430,65 kWp yang tersebar di 92 titik.

Instalasi tersebut terpasang di 62 stasiun, 10 balai yasa, 6 griya karya, 3 depo, 1 kantor, serta 1 gedung record center yang mendukung operasional perusahaan di berbagai penjuru Indonesia.

Pemanfaatan tenaga surya menjadi elemen transformasi di berbagai sektor, termasuk transportasi.

Sebagai pengelola mobilitas masyarakat, KAI memandang penggunaan energi efisien dan rendah emisi sebagai langkah vital untuk mendukung pertumbuhan perusahaan serta berkontribusi pada target lingkungan nasional.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyampaikan bahwa pengembangan PLTS dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kebutuhan operasional dan potensi pemanfaatan sinar matahari pada aset perusahaan.

"Pengembangan PLTS menjadi bagian dari upaya KAI untuk meningkatkan pemanfaatan energi bersih dalam operasional perusahaan. Program ini terus kami kembangkan secara bertahap seiring komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan dan efisiensi energi," ujar Anne.

Berdasarkan kajian teknis, setiap 1 kWp sistem PLTS di Indonesia rata-rata mampu menghasilkan 1.300 hingga 1.500 kWh listrik per tahun, tergantung intensitas cahaya matahari dan lokasi pemasangan.

Dengan kapasitas 4.430,65 kWp, PLTS milik KAI berpotensi menghasilkan sekitar 5,8 juta hingga 6,6 juta kWh listrik bersih setiap tahunnya.

Produksi energi tersebut memberikan manfaat lingkungan yang terukur secara kuantitatif.

Perhitungan pengurangan emisi merujuk pada Keputusan Menteri ESDM Nomor 163.K/HK.02/MEM.S/2021 tentang Penetapan Faktor Emisi Gas Rumah Kaca Sistem Ketenagalistrikan sebagai acuan nasional.

Dalam regulasi tersebut, faktor emisi sistem interkoneksi Jawa-Madura-Bali (Jamali) berada pada kisaran 0,84–0,87 ton CO2 per MWh.

Dengan kapasitas tersebut, PLTS KAI berpotensi mengurangi emisi karbon sekitar 5.100 hingga 5.800 ton CO2 per tahun.

Angka ini diperoleh dari estimasi produksi listrik tahunan PLTS yang dikalikan dengan faktor emisi sistem ketenagalistrikan Jamali.

Hal ini membuktikan bahwa energi surya berkontribusi langsung pada pengurangan emisi gas rumah kaca.

Listrik dari PLTS menggantikan sebagian kebutuhan energi dari sumber fosil, sehingga mendukung agenda pembangunan rendah karbon nasional.

Pengembangan PLTS juga memperkuat prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di KAI.

Pemanfaatan energi surya mendukung efisiensi, ketahanan energi fasilitas operasional, serta perluasan penggunaan sumber terbarukan di lingkungan perusahaan.

Saat ini, panel surya di stasiun, balai yasa, depo, dan fasilitas lainnya telah menjadi bagian dari operasional sehari-hari perusahaan.

Kehadirannya menunjukkan bahwa inovasi teknologi selaras dengan pelayanan publik dan pengelolaan lingkungan jangka panjang.

"Transformasi menuju transportasi berkelanjutan memerlukan langkah yang konsisten. KAI akan terus mengembangkan berbagai inisiatif yang mendukung efisiensi energi, pengurangan emisi, serta penciptaan nilai berkelanjutan bagi masyarakat dan lingkungan," tutup Anne.

Reporter: Talita Malinda