Strategi SKK Migas Tingkatkan Produksi Minyak Nasional Tahun 2026

Pompa angguk atau pump unit yang beroperasi di Lapangan Duri PT Pertamina Hulu Rokan (FOTO: NET)
Penulis: Talita Malinda
Senin, 08 Juni 2026 | 15:34:18 WIB

JAKARTA – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengakui bahwa penurunan produksi minyak pada awal tahun akibat insiden pipa gas PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) serta kondisi reservoir Blok Cepu sempat menimbulkan kekhawatiran terhadap target produksi tahun ini.

Oleh karena itu, SKK Migas terus menggenjot berbagai program demi mewujudkan target produksi minyak nasional sebesar 610 ribu barel per hari (BOPD) pada tahun 2026.

Beberapa strategi telah disiapkan, mulai dari percepatan pengeboran sumur pengembangan, program Filling The Gap (FTG), hingga optimalisasi sumur masyarakat.

Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menuturkan bahwa salah satu pilar utama peningkatan produksi bersumber dari sumur-sumur pengembangan di kawasan nearfield, stepout, serta new structures yang berada di Zona 4, Zona 7, dan wilayah kerja Pertamina Hulu Rokan (PHR).

“Sumur-sumur nearfield, stepout dan new structures dari Zona 4, Zona 7 dan PHR yang dibor sampai Mei 2026 berhasil mendapatkan hasil produksi yang baik dan telah memberikan kontribusi produksi awal sekitar 10.000 BOPD,” ujar Djoko dalam paparannya pada Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI belum lama ini.

Di samping itu, SKK Migas bertumpu pada program Triple 100 dan FTG untuk menambah produksi minyak nasional.

Dari aspek subsurface, program FTG diproyeksikan dapat menyumbang tambahan produksi hingga 5.000 BOPD.

Sampai akhir Mei 2026, realisasi tambahan produksi dari program tersebut mencapai 199 BOPD, sehingga masih terdapat potensi sekitar 4.800 BOPD yang akan dikejar hingga akhir tahun.

Langkah peningkatan produksi juga ditempuh melalui program work over dan well service pada 106 sumur, termasuk aktivitas Mechanical Lift Failure (MLF), dengan target tambahan produksi rata-rata 75 BOPD untuk setiap sumur.

Hingga saat ini telah terealisasi sebanyak 28 kegiatan well service.

Sementara itu, untuk sumur pengembangan yang masuk dalam program FTG dan Triple 100, SKK Migas membidik pengeboran 52 sumur.

Hingga Mei 2026, telah terealisasi lima sumur dengan volume produksi awal berkisar 300 sampai 1.000 BOPD per sumur.

Program selanjutnya adalah eksekusi Massive Scale Fracturing (MSF).

Dari target 17 MSF di area kerja WP&B, dua kegiatan telah selesai dikerjakan dan ditargetkan mulai berproduksi pada Juni 2026.

Sebanyak 15 MSF lainnya akan dilaksanakan dengan target tambahan produksi sebesar 200–300 BOPD per sumur.

Selain itu, kegiatan MLF dalam program FTG Triple 100 dan WP&B juga akan diterapkan pada 30 sumur dengan target produksi awal 30–150 BOPD per sumur yang mulai berjalan pada Juni 2026.

Djoko menambahkan, optimalisasi implementasi Permen ESDM Nomor 14 Tahun 2025 mulai memperlihatkan hasil positif.

Produksi dari sumur masyarakat pada Mei 2026 telah mencapai kisaran 1.500 BOPD dan diproyeksikan akan terus menanjak seiring bertambahnya kemitraan dengan koperasi, BUMD, serta UMKM.

Reporter: Talita Malinda