Dampak Perang AS-Iran: Volatilitas Pasar hingga Lonjakan Inflasi

Tentara Iran menembakkan rudal dalam latihan militer di Pantai Makran. ( Sumber : NET )
Penulis: Talita Malinda
Senin, 08 Juni 2026 | 10:24:40 WIB

WASHINGTON - Perang antara Amerika Serikat dan Iran telah berlangsung selama 100 hari, tepat pada Minggu (7/6/2026).

Konflik tersebut terus memicu volatilitas yang substansial pada semua kelas aset di berbagai wilayah dunia karena kesepakatan perdamaian yang permanen masih sulit dicapai.

Sementara itu, negosiasi antara pihak AS dan Iran mengalami kebuntuan, dengan Washington dan Teheran mengirimkan pesan beragam terkait status pembicaraan perdamaian serta saling melancarkan serangan militer secara berkala.

Meskipun demikian, gencatan senjata yang rapuh tetap berlaku untuk memberikan ruang bagi proses diplomasi.

Perang ini memberikan tekanan yang meningkat pada kondisi ekonomi serta sebagian pasar keuangan global.

Pasca meletusnya perang antara AS dan Israel melawan Iran, pasar saham di seluruh dunia sempat mengalami penurunan tajam.

Di tengah kesulitan yang dialami mayoritas pasar global, Wall Street justru mencatatkan momentum positif karena investor mengabaikan dampak perang, tingginya harga minyak, serta pengaruh konflik terhadap inflasi, di mana indeks S&P 500 justru mencapai rekor tertinggi sepanjang masa saat perang masih berlangsung.

Kepala investasi Netwealth, Iain Barnes, menyatakan pasar saham didominasi oleh asumsi bahwa perang akan menggeser ekonomi pengimpor energi utama dari lingkungan disinflasi yang menguntungkan menjadi lingkungan stagflasi.

Namun, optimisme terhadap kekuatan disruptif kecerdasan buatan (AI) di masa depan serta latar belakang yang mendukung bagi perusahaan-perusahaan AS menjadi fokus utama.

"Hal ini menyebabkan pasar saham melonjak lebih tinggi, tetapi jelas dipimpin oleh perusahaan-perusahaan di pasar AS dan Asia yang dianggap sebagai penerima manfaat langsung dari pengeluaran untuk AI," kata dia dikutip dari CNBC, Senin (8/6/2026).

"Saham-saham Eropa lebih lesu karena dampak kenaikan biaya energi lebih bermasalah," imbuh dia.

Kepala investasi BRI Wealth Management, Toni Meadows, menjelaskan bahwa pengeluaran untuk infrastruktur AI telah mengidentifikasi sejumlah potensi hambatan, terutama terkait permintaan yang tinggi akan kapasitas komputasi yang mendorong harga saham perusahaan semikonduktor.

"Pasar dan seluruh perekonomian seperti Korea Selatan dan Taiwan mendapatkan peningkatan pertumbuhan karena hal itu," ucap dia.

Meadows mengungkapkan, ketika Selat Hormuz tetap tertutup, inflasi kemungkinan besar akan meningkat.

Namun, investor tampaknya bersedia percaya bahwa baik Trump maupun Iran tidak ingin memperpanjang konflik ini.

"Meskipun demikian, pada titik tertentu dampak konflik, jika tidak terselesaikan, akan menyebabkan penurunan permintaan yang tidak dapat diabaikan oleh investor," ucap dia.

Obligasi pemerintah telah berfluktuasi sejak perang pecah, namun imbal hasil utang negara tetap berada di level tinggi.

Imbal hasil obligasi dan harganya bergerak berlawanan arah, sehingga imbal hasil yang tinggi berarti tekanan ke bawah pada nilai aset tetap ada.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS termasuk di antara yang melonjak setelah perang pecah karena investor bergegas memperhitungkan inflasi yang lebih tinggi serta kebijakan moneter yang ketat.

Bulan lalu, imbal hasil obligasi pemerintah AS 30 tahun mencapai level tertinggi sejak sebelum krisis keuangan.

Banyak negara dengan perekonomian besar menunjukkan pola serupa.

Sebagai contoh, Inggris yang sedang dilanda gejolak politik domestik menyaksikan obligasi pemerintahnya, yang dikenal sebagai gilts, mengalami penurunan dan dijual secara agresif.

Kepala bagian investasi di Premier Miton Investors, Neil Birrell, menyatakan pasar obligasi memandang ada sesuatu yang nyata untuk dikhawatirkan, merujuk pada kekhawatiran tentang inflasi tinggi, pertumbuhan rendah, dan gangguan rantai pasokan.

"Lamanya inflasi dan suku bunga yang lebih tinggi mungkin lebih penting daripada puncak absolut yang dicapainya, jadi dengan situasi saat ini yang tampaknya akan berlangsung lama, pertumbuhan ekonomi akan terganggu dan imbal hasil obligasi kemungkinan akan tetap tinggi, sehingga menyulitkan saham untuk mempertahankan levelnya," kata dia.

Selat Hormuz sebagai jalur pengiriman minyak yang krusial di Timur Tengah pada dasarnya telah ditutup selama perang berlangsung.

Kondisi tersebut mengakibatkan fluktuasi harga minyak yang besar karena para pedagang bereaksi terhadap berita utama mengenai serangan rudal, perundingan perdamaian, dan gencatan senjata.

Walaupun harga telah turun secara signifikan dari puncak tertingginya selama masa perang, harga tersebut masih jauh lebih tinggi daripada sebelum konflik dimulai.

Patokan global harga minyak mentah Brent berjangka diperdagangkan sekitar 36 persen di atas harga sebelum perang, sementara harga berjangka West Texas Intermediate AS masih naik hampir 50 persen.

Blokade Selat Hormuz, bersamaan dengan kerusakan dan penutupan fasilitas produksi energi utama di Timur Tengah, menciptakan kendala pasokan yang parah.

Masalah pasokan ini memaksa importir minyak untuk mencari pemasok alternatif.

Dalam 100 hari terakhir, pasar menyaksikan peningkatan ekspor minyak mentah AS.

Analis PVM Oil Associates, Tamas Varga, menjelaskan bahwa peristiwa tersebut menjadi salah satu faktor mitigasi yang menghambat kenaikan harga signifikan di pasar minyak mentah.

"Ini termasuk pelepasan Cadangan Minyak Strategis, pencabutan sanksi terhadap minyak Iran dan Rusia yang masih berada di laut, pengurangan impor minyak China, rute alternatif untuk mengirim minyak dari Teluk Persia ke Asia dan Eropa, peningkatan ekspor minyak mentah dan produk olahan AS, dan akhirnya, penghancuran permintaan," urai dia.

Kendati demikian, ia menambahkan jika persediaan minyak terus menipis sepanjang Juni, persediaan tersebut akan mencapai tingkat operasional kritis dan persaingan untuk mengamankan pasokan akan semakin intensif.

Saat itu terjadi, penurunan harga di atas 100 dollar AS akan segera terjadi.

"Sangat penting agar Selat Taiwan dibuka kembali sesegera mungkin untuk mengurangi kekurangan pasokan dan, akibatnya, tekanan inflasi," tambah Varga.

Data ekonomi mulai menunjukkan dampak yang lebih luas dari perang ini di luar pasar keuangan.

Akibat perang yang terus menekan biaya energi, angka inflasi di berbagai ekonomi utama mulai menunjukkan kenaikan harga yang didorong oleh melonjaknya biaya minyak, gas, bahan bakar jet, dan bensin.

Di AS, indeks harga konsumen mencapai tingkat tahunan 3,8 persen pada April, level tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir.

Menipisnya pasokan energi dari Timur Tengah telah menjadi pendorong utama kenaikan inflasi tersebut.

Di sisi lain, lonjakan harga telah memicu intervensi pemerintah dari beberapa negara, termasuk Jerman dan India.

Direktur Pelaksana Kingswood Group, Paul Surguy, mempertanyakan apakah pasar telah mati rasa secara kolektif terhadap perang global.

"Yang kami lihat adalah dukungan terhadap perang di AS berada pada titik terendah sepanjang masa, pendanaan militer berada pada titik tertinggi sepanjang masa, dan kedua belah pihak jelas-jelas mencari jalan keluar yang menyelamatkan muka," ujar dia.

"Hal ini, dan bukan situasi saat ini, kemungkinan besar akan berdampak pada harga minyak dalam jangka panjang. Tidak ada yang ingin berada di sini dalam enam bulan ke depan," tutup dia.

Reporter: Talita Malinda