SKK Migas Optimistis Lifting Minyak Tembus 610 Ribu BPH Tahun Ini

SKK Migas memproyeksikan lifting minyak Indonesia mencapai 600–610 ribu barel per hari pada 2026. (Sumber Foto: NET)
Penulis: Talita Malinda
Kamis, 04 Juni 2026 | 15:09:39 WIB

JAKARTA - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memproyeksikan lifting minyak Indonesia hingga penghujung tahun 2026 berada pada kisaran 600 ribu hingga 610 ribu barel per hari (bph).

Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, memaparkan bahwa realisasi produksi terangkut (lifting) minyak, kondensat, dan NGL hingga akhir Mei 2026 telah mencapai 576,2 ribu barel per hari.

Secara terperinci, angka tersebut terdiri dari produksi minyak sebesar 491,3 ribu bph, kondensat 55,8 ribu bph, serta NGL 29,1 ribu bph.

“Untuk lifting minyak tahun 2026, saat ini realisasinya 576 ribu bopd (barrels oil per day). Outlook hingga akhir tahun sekitar 600–610 ribu bopd. Untuk 2027 diperkirakan sekitar 602–615 ribu bopd, dan akan ditetapkan di antara kisaran tersebut,” ujar Djoko dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (3/6).

Sementara itu, untuk lifting atau penyaluran gas hingga 31 Mei 2026, produksi gas tercatat sebesar 6.550 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD), dengan realisasi salur gas mencapai 5.207 MMSCFD.

Target lifting/salur gas dalam APBN 2026 ditetapkan sebesar 5.508 MMSCFD, sehingga realisasi saat ini telah menyentuh 94,5% dari target tahun tersebut.

Adapun untuk outlook 2026, produksi gas diperkirakan mencapai sekitar 6.787 MMSCFD, sedangkan salur gas diperkirakan sekitar 5.400 MMSCFD.

Djoko turut menyampaikan bahwa asumsi Indonesian Crude Price (ICP) tahun 2026 diproyeksikan berada di angka US$86 per barel, dan untuk tahun 2027 diperkirakan turun menjadi sekitar US$80 per barel.

Di sisi lain, ia menjelaskan bahwa realisasi produksi minyak yang masih rendah pada awal tahun dipicu oleh sejumlah gangguan operasional.

Pada kuartal pertama, terjadi kebocoran pipa milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) yang berdampak pada tujuh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di Terminal Dumai serta dua pemasok gas.

Setelah gangguan tersebut berhasil diatasi, produksi sempat kembali meningkat.

Namun, pada kuartal kedua muncul kendala lain berupa gangguan kelistrikan di wilayah kerja PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) serta penurunan produksi di Lapangan Banyu Urip.

“Kemudian setelah teratasi kembali naik, tetapi muncul lagi masalah kelistrikan di PHR dan penurunan produksi di Banyu Urip, dua blok migas yang menjadi penopang terbesar produksi nasional kami,” jelasnya.

Reporter: Talita Malinda