Dorong Transisi Energi, PLN EPI Garap Potensi Bioenergi Sorgum

PLN EPI dan Sorbu Agro Energi mengembangkan bioenergi sorgum di Gorontalo untuk mendukung transisi energi dan target net zero emission 2060. (Sumber Foto: rm.id)
Penulis: Talita Malinda
Jumat, 22 Mei 2026 | 16:28:01 WIB

JAKARTA – PLN Energi Primer Indonesia (EPI) memulai langkah kolaborasi pengembangan bioenergi berbasis tanaman sorgum bersama PT Sorbu Agro Energi sebagai upaya mendukung agenda transisi energi nasional serta target net zero emission (NZE).

Direktur Biomassa PLN Energi Primer Indonesia, Hokkop Situngkir, menerangkan bahwa biomassa unggul dalam menekan emisi karbon secara berarti melalui substitusi batu bara pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

"Berbeda dengan energi terbarukan lain yang bersifat menggantikan, biomassa mampu mereduksi emisi secara langsung. Substitusi sebagian penggunaan batu bara dengan biomassa menjadi langkah nyata dalam menurunkan emisi," ujarnya dalam keterangan di Jakarta, Rabu.

Menurut Hokkop, pengembangan bioenergi sorgum sejalan dengan agenda Astacita pemerintah guna memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional.

Ia menambahkan, negara seperti Jepang dan Korea Selatan kini semakin agresif meningkatkan penggunaan biomassa serta mencari pasokan baru demi memenuhi kebutuhan energi.

Saat ini, PLN Energi Primer Indonesia tercatat telah mengembangkan sekitar 14 jenis biomassa untuk keperluan cofiring PLTU.

Perusahaan juga telah mengamankan kontrak pasokan biomassa sekitar 1 juta ton melalui hampir 100 kemitraan.

Kerja sama tersebut diresmikan lewat penandatanganan nota kesepahaman di Jakarta, Senin (18/5).

Dalam kemitraan ini, PLN EPI berfungsi sebagai offtaker biomassa sekaligus pengembang ekosistem energi primer, sementara proses budi daya diserahkan kepada mitra.

"Kami berfokus pada penyediaan dan penyerapan biomassa untuk pembangkit. Untuk sektor budi daya, kami bekerja sama dengan mitra agar tercipta ekosistem yang berkelanjutan," tambah Hokkop.

Direktur PT Sorbu Agro Energi, Verdi Budiman, mengutarakan bahwa pihaknya mengelola konsesi lahan seluas 10.000 hektare di Gorontalo, dengan potensi pengembangan hingga 40.000 hektare melalui program perhutanan sosial.

Tahap awal akan berlangsung di Desa Totopo seluas 218 hektare, yang berjarak 56 kilometer dari PLTU Anggrek.

Verdi menyatakan proyek ini menerapkan pendekatan pentaheliks yang mengintegrasikan peran pemerintah, BUMN, masyarakat, swasta, akademisi, dan media.

"Kami diharapkan menjadi lokomotif program perhutanan sosial berbasis ekosistem terintegrasi yang mencakup energi biomassa, peternakan, biogas, dan produk turunan lainnya. Kolaborasi ini akan melibatkan berbagai pihak, termasuk PLN EPI dan Fakultas Pertanian Universitas Negeri Gorontalo," ujarnya.

Ruang lingkup kerja sama meliputi studi pengembangan bioenergi, pembangunan biomass hub di Sulawesi, kajian teknologi, hingga pemanfaatan sumber daya hayati lainnya.

Hokkop menilai inisiatif ini sebagai langkah nyata membangun ekosistem energi bersih berbasis kerakyatan yang dapat menjadi solusi menekan emisi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Reporter: Talita Malinda