Tragedi Erupsi Dukono, Pemandu Ungkap Detik-Detik Rekannya Terhantam Batu

Jumat, 15 Mei 2026 | 16:19:23 WIB
Aktivitas vulkanik Gunung Dukono di Halmahera Utara.(Sumber Foto:NET)

JAKARTA - Empat hari pasca-erupsi Gunung Dukono yang merenggut nyawa dua pendaki asal Singapura dan satu pendaki lokal, Reza Selang menyatakan perasaannya yang masih sangat terguncang.

 Reza merupakan pemandu yang memimpin rombongan berjumlah 20 orang ke puncak gunung di Halmahera Utara tersebut pada Jumat (08/05) lalu. 

Meski berhasil selamat, ia melihat secara langsung material batu besar yang terlontar dari kawah dan menghantam dua orang pendaki di hadapannya.

"Sampai sekarang saya masih sangat terpukul," ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon pada Senin pagi.

Pria berusia 35 tahun ini menjelaskan bahwa rombongan sampai di Desa Mamuya pada Kamis (7/5/2026) siang.

 Perjalanan dilanjutkan menuju titik awal pendakian hingga mencapai lokasi peristirahatan lima jam kemudian. Menurut penuturannya, malam itu kondisi vulkanik terpantau stabil tanpa tanda-tanda bahaya.

 Pada Jumat pagi pukul 05.30 WIT, pendakian menuju puncak dimulai dan rombongan tiba di area puncak sekitar pukul 07.20 WIT.

"Saat saya pantau dengan drone tidak kelihatan aktivitas apa-apa di kawah. Asapnya pun enggak ada. Sangat tenang," ujarnya.

Ia kemudian memperbolehkan rombongan mendekat ke kawah dengan instruksi agar segera turun. 

Saat letusan terjadi pada pukul 07.41 WIT, Reza sedang mengoperasikan drone dari posisi yang lebih rendah.

"Di 07.40 saya sempat nge-drone dari jauh. Pas di 07.41 langsung gunungnya meletus," katanya.

Letusan terjadi dua kali dalam waktu singkat, di mana letusan kedua memuntahkan material vulkanik secara masif.

"Letusan pertama masih keluar asap. Sekian detik kemudian letusan susulan keluar dan itu keluar material [vulkanik] semuanya," ujarnya.

Dalam kepanikan tersebut, Reza memantau melalui drone dan menemukan satu korban, Shahin Muhrez bin Abdul Hamid asal Singapura, tergeletak di dekat puncak. 

Seorang pendaki lain, Timothy Heng, yang sudah sempat turun, memutuskan kembali naik untuk menolong rekannya tersebut. Reza pun ikut berlari ke atas membantu Timothy. 

Mereka berdua berupaya mengevakuasi Shahin dengan menyeretnya di tengah hujan batu.

"Saya pegang kaki, Timo pegang tangannya. Jadi kami seret dia turun," ujar Reza.

Namun, batu besar berdiameter sekitar dua meter meluncur ke arah mereka. Timothy secara spontan memeluk Shahin sebelum batu itu menghantam keduanya.

"Batu itu sekitar dua meter lebarnya. Saya sudah teriak 'stone', tapi Timo balik dan hanya sepersekian detik dia langsung memeluk Shahin," katanya. "Kena semuanya, kepala, badan, seluruhnya, karena batunya besar."

Reza mengaku sempat kehilangan kesadaran sesaat karena syok. 

Ia melihat langsung bagaimana dua orang yang dikenalnya selama perjalanan terhimpit batu. 

Tragedi ini juga menewaskan Angel Krishela Pradita, peserta asal Ternate.

 Sementara jasad Timothy dan Shahin baru bisa dievakuasi pada hari Minggu karena aktivitas gunung yang masih tinggi.

Penyesalan Mendalam 

Meski mengalami luka bakar pada kakinya, Reza tetap berada di lokasi untuk membantu evakuasi dan mengungkapkan rasa bersalah yang mendalam atas kejadian ini.

"Ini kejadian pertama yang saya alami dan saya merasa sangat bersalah kepada korban dan keluarga korban," katanya. "Saya rasanya ingin ke sana, sujud di kaki orang tuanya korban. Saya ingin minta maaf," ujarnya.

Ia merenungi keputusan-keputusannya yang berujung pada tragedi tersebut.

"Tentu saja banyak penyesalan. Seandainya kemarin kami enggak naik, seandainya kemarin saya enggak terima [pekerjaan ini], seandainya Dukono bukan tujuan terakhir," katanya.

Proses Hukum

 Pasca-kejadian, Reza langsung menjalani pemeriksaan kepolisian di Polres Halmahera Utara. 

Saat ini statusnya masih sebagai saksi, namun ia diwajibkan untuk tetap berada di wilayah Tobelo selama penyelidikan berlangsung.

"Dari rumah sakit tanpa jeda, kami langsung dioper lagi ke Polres, dimintai keterangan, BAP dan segala macam," katanya. "Konsekuensi hukum yang nanti terjadi, apapun itu harus saya terima, siap tidak siap," pungkasnya.

Terkait prosedur, Reza mengklaim tidak mendapatkan informasi mengenai penutupan Gunung Dukono yang seharusnya berlaku sejak 17 April.

 Ia juga menyebut tidak melihat adanya papan larangan di jalur pendakian.

"Tanpa bermaksud menyalahkan siapa pun, informasi penutupan tanggal 17 April itu saya enggak dapat. Bahkan dari mereka yang notabene warga Mamuya," ujarnya.

Terkini