JAKARTA - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) sukses mencatatkan penghematan energi hingga mencapai 90.502,28 MWh sepanjang tahun 2025.
Perolehan ini menunjukkan peningkatan signifikan jika disandingkan dengan realisasi tahun lalu yang tercatat sebesar 40.058,77 MWh.
Berdasarkan Laporan Keberlanjutan 2025 yang dirilis perusahaan, peningkatan efisiensi tersebut didorong oleh berbagai langkah optimalisasi operasional di sejumlah wilayah kerja panas bumi (WKP).
Langkah-langkah tersebut mencakup proses debottlenecking jalur produksi di Area Ulubelu agar sumur dengan tekanan rendah dapat terintegrasi ke dalam sistem, optimalisasi vacuum pump pada Gas Extraction System demi meminimalkan penggunaan energi sendiri (own use), serta melakukan modifikasi pada hand control valve di Lumut Balai untuk mengurangi uap yang terbuang sia-sia.
Direktur Operasi PGEO Andi Joko Nugroho menerangkan bahwa keteguhan dalam menerapkan praktik keberlanjutan merupakan faktor vital dalam mempertahankan pengembangan panas bumi yang tepercaya, efisien, serta memiliki daya saing.
Andi juga menegaskan bahwa tiap implementasi keberlanjutan perseroan dilakukan secara terbuka dengan mengacu pada standar pelaporan internasional.
“Pelaporan keberlanjutan tersebut telah melalui proses verifikasi oleh lembaga independen berlisensi AA1000 dengan kualifikasi assurance type 1 dan type 2 level moderate,” ujar Andi dalam keterangan tertulis Kamis (14/5/2026).
Di sisi lain, PGEO turut membukukan rasio intensitas energi pada level 0,037 MWh/MWh di tahun 2025, atau mengalami penurunan sebesar 10,10 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Rasio tersebut diperoleh dari perbandingan antara total energi yang dikonsumsi perusahaan dengan total listrik panas bumi yang diproduksi. Data ini menggambarkan penggunaan energi yang semakin mangkus dalam proses operasional.
Sementara itu, pemanfaatan energi terbarukan dalam aktivitas operasional tetap bertahan di level tinggi, yakni sebesar 94,36 persen. Dalam hal manajemen emisi, intensitas emisi PGE tercatat pada level 41,12 g CO2e/kWh.
Posisi ini berada jauh di bawah batas maksimal yang ditetapkan dalam Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia maupun EU Taxonomy sebesar 100 g CO2e/kWh.
Pencapaian ini menjadi bukti bahwa operasional PGE konsisten dalam kategori rendah karbon.
Di waktu yang sama, kapasitas operasional PGE turut membantu pencegahan emisi lebih dari 4,29 juta ton CO2e sepanjang 2025.
Selain aspek efisiensi dan pemangkasan emisi, PGEO juga memperkokoh tata kelola limbah non-B3 melalui skema 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Recovery). Volume limbah non-B3 yang dikelola lewat metode ini mencapai 17 ton di tahun 2025, tumbuh 24,5 persen dari capaian tahun 2024 yang sebesar 13,66 ton.
PGE juga terus memperkuat pengelolaan sumber daya air yang akuntabel. Pemakaian air perusahaan pada 2025 menyusut 33,31 persen menjadi 262,24 megaliter, jika dibandingkan dengan tahun 2024 yang mencapai angka 393,23 megaliter.
Kinerja LST (Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola) perseroan pun terus menunjukkan tren positif seiring dengan penguatan implementasi tersebut.
Skor Sustainalytics ESG Risk Rating PGE kini berada di angka 7,1 (kategori risiko yang dapat diabaikan), yang memposisikan PGE sebagai satu-satunya perwakilan dari Indonesia dalam daftar Top 50 ESG Global dari total 42 negara.
Pengembangan panas bumi ini tidak hanya menitikberatkan pada energi hijau, melainkan juga menjamin operasional yang efisien dan memberikan dampak positif bagi lingkungan serta masyarakat sekitar.
“Karena itu, penguatan praktik ESG dan implementasi operasi berkelanjutan akan terus menjadi prioritas Perseroan ke depan. Komitmen tersebut dijalankan sejalan dengan empat pilar keberlanjutan PGE, yaitu Nature, Zero Emission, People & Socioeconomics, serta Transformation Catalyst,” kata Andi.