DENPASAR – Pemerintah saat ini sedang mempertimbangkan penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai pilihan energi alternatif untuk menggantikan Liquefied Petroleum Gas (LPG).
Kebijakan strategis tersebut dilakukan guna memperkokoh kedaulatan energi nasional sekaligus menekan angka ketergantungan terhadap impor elpiji.
Walaupun keduanya digunakan sebagai bahan bakar keperluan dapur, LPG dan CNG mempunyai karakteristik teknis yang jauh berbeda.
Merujuk pada data teknis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), LPG ialah gas cair yang berasal dari hasil olahan minyak bumi.
Di sisi lain, CNG merupakan gas alam terkompresi yang didominasi oleh unsur metana dan diperoleh langsung dari sumur-sumur dalam negeri.
Perbedaan asal sumber inilah yang menjadikan CNG memiliki nilai ekonomi yang dianggap lebih kompetitif bagi keuangan negara.
Apabila dilihat dari aspek biaya, pemanfaatan CNG disebut jauh lebih murah jika disandingkan dengan LPG nonsubsidi. PT Pertamina Gas Negara (PGN) melaporkan bahwa efisiensi pemakaian gas bumi melalui pipa mampu mencapai angka 20 sampai 25 persen.
Penghematan ini dapat terjadi lantaran harga gas bumi domestik cenderung lebih stabil dibandingkan harga elpiji yang kerap mengikuti fluktuasi pasar dunia.
Bukan hanya itu, para konsumen juga tidak perlu merasa cemas terkait akurasi volume gas karena penghitungannya dilakukan melalui meteran gas.
Dari sisi keamanan, CNG mempunyai sifat yang jauh lebih aman bagi lingkungan rumah tangga.
Berdasarkan hukum fisika, massa jenis metana pada CNG lebih ringan dibandingkan udara sehingga gas akan lebih cepat menguap ke atas.
Hal tersebut dapat memperkecil risiko terjadinya kebakaran hebat apabila muncul kebocoran kecil di area dapur.
Karakteristik ini berbeda dengan LPG yang massanya lebih berat sehingga gas cenderung mengendap di permukaan lantai.
Akan tetapi, proses transisi ini menemui kendala infrastruktur yang besar, khususnya terkait pembangunan jaringan pipa gas.
Berbeda dengan tabung LPG yang mudah dibawa ke mana saja (portabel), penggunaan CNG memerlukan instalasi pipa permanen yang terhubung langsung ke rumah penduduk.
Kelemahan lainnya yakni besarnya biaya investasi awal yang dibutuhkan untuk membangun jaringan pipa tersebut.
Selain itu, nilai panas atau kalor pada CNG berada sedikit di bawah LPG, sehingga durasi memasak mungkin akan terasa lebih lama.
Sebagai kesimpulan, baik LPG maupun CNG memiliki nilai tambah serta tantangan tersendiri dalam menjawab kebutuhan energi publik.
LPG memiliki keunggulan dalam hal kemudahan distribusi hingga ke daerah terpencil yang sulit dijangkau oleh pipa.
Sebaliknya, CNG memberikan solusi energi jangka panjang yang dianggap lebih aman serta lebih terjangkau secara berkelanjutan.
Keberhasilan langkah transisi ini nantinya akan sangat bergantung pada kesiapan pembangunan infrastruktur serta dukungan penuh dari tiap lapisan masyarakat.