JAKARTA – Pemerintah tengah menyiapkan gas baru pengganti LPG 3 kg yang diklaim memiliki harga lebih murah 30 hingga 40 persen untuk menekan angka subsidi energi nasional.
Langkah ini diambil sebagai strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan energi domestik sekaligus mengurangi beban impor gas yang selama ini cukup tinggi.
"Kondisi global tersebut menjadi momentum bagi Indonesia untuk semakin mengoptimalkan pengembangan panas bumi. Sejalan dengan itu, sebagai world leading geothermal producer, PGE terus berfokus pada pertumbuhan jangka panjang melalui tiga strategi utama: optimalisasi aset eksisting, ekspansi bisnis, dan diversifikasi sumber pendapatan baru," kata Ahmad Yani, sebagaimana dilansir dari sumbernya, Senin (4/5/2026).
Arifin Tasrif berpendapat bahwa pemanfaatan sumber energi gas bumi di dalam negeri harus terus ditingkatkan melalui infrastruktur jaringan yang lebih masif ke hunian penduduk.
Pengembangan teknologi pemrosesan gas ini diharapkan dapat menghasilkan produk yang setara secara kualitas namun jauh lebih terjangkau.
Proses uji coba akan dilakukan di beberapa wilayah percontohan guna memastikan kesiapan alat konversi dan keamanan distribusi di tingkat konsumen.
Target penghematan sebesar 30 hingga 40 persen diprediksi akan memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas ekonomi rumah tangga berpenghasilan rendah.
Pemerintah optimistis bahwa ketersediaan cadangan gas nasional mampu mencukupi kebutuhan transisi energi ini dalam beberapa dekade ke depan.
Koordinasi lintas kementerian terus diperkuat untuk menyelaraskan skema distribusi agar bantuan subsidi tepat sasaran dan tidak mengalami kebocoran.
Masyarakat diharapkan dapat segera beralih menggunakan sarana energi alternatif ini setelah seluruh regulasi dan fasilitas pendukung rampung dikerjakan.
Efisiensi biaya operasional dapur menjadi poin utama yang ditonjolkan dalam pengenalan varian bahan bakar baru bagi jutaan keluarga di Indonesia.