JAKARTA - Lonjakan adopsi kendaraan listrik global mulai menggerus konsumsi minyak dunia secara signifikan dengan pemangkasan mencapai 2,3 juta barel per hari pada 2025.
Teknologi transportasi ramah lingkungan ini diprediksi akan memberikan dampak dua kali lipat lebih besar sebelum pergantian dekade mendatang.
"Meski laju penjualan di Amerika Serikat melambat, permintaan tetap kuat di sejumlah ekonomi besar seperti China, Europe, dan India," sebagaimana dilansir dari naskah sumber asli, Selasa (28/4/2026).
Laporan tersebut menjelaskan bahwa segmen motor listrik dan kendaraan roda 3 menjadi kontributor paling dominan dalam menekan angka ketergantungan minyak.
Data menunjukkan penjualan unit plug-in di seluruh dunia telah menyentuh angka 20,7 juta unit pada periode tahun lalu.
Wilayah Asia tercatat paling progresif dalam mengalihkan kebutuhan energi dari bensin ke daya listrik rumahan.
Para ahli energi memproyeksikan mobil penumpang akan mengambil alih peran utama dalam pengurangan beban minyak bumi pada 2030.
Estimasi konservatif tetap menunjukkan angka penghematan yang setara dengan mayoritas volume ekspor minyak melalui jalur Selat Hormuz.
Selain faktor kedaulatan energi, perbaikan kualitas udara menjadi manfaat sampingan yang sangat dirasakan oleh warga kota besar.
Biaya perawatan unit berbasis baterai juga terbukti jauh lebih murah dibandingkan mesin pembakaran internal dalam durasi pemakaian yang sama.
Pemilihan moda transportasi ini kini tidak hanya sekadar gaya hidup tetapi sudah menjadi kebutuhan ekonomi yang masuk akal bagi masyarakat global.