JAKARTA - Perubahan perilaku masyarakat dalam bertransaksi semakin terlihat nyata di awal 2026. Layanan digital kini menjadi pilihan utama, menggantikan metode konvensional yang sebelumnya dominan.
Fenomena ini turut mendorong kinerja PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) yang mencatat lonjakan signifikan pada aktivitas transaksi digital sepanjang dua bulan pertama tahun ini.
Seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan kemudahan dan kecepatan layanan keuangan, BTN berhasil memanfaatkan momentum tersebut dengan memperkuat kanal digitalnya. Hasilnya, pertumbuhan transaksi digital bank ini menunjukkan tren yang sangat positif, baik dari sisi volume maupun nilai transaksi.
Lonjakan Transaksi Digital di Awal Tahun
Kinerja transaksi digital BTN mengalami peningkatan tajam hingga Februari 2026. Bank ini mencatat jumlah transaksi digital mencapai sekitar 53,7 juta transaksi, dengan pertumbuhan lebih dari 57% secara tahunan atau year on year (yoy).
Peningkatan ini mencerminkan semakin tingginya kepercayaan nasabah terhadap layanan digital yang disediakan. Digitalisasi perbankan yang semakin masif membuat nasabah beralih ke transaksi non-tunai untuk berbagai kebutuhan harian, mulai dari transfer hingga pembayaran rutin.
Tidak hanya dari sisi jumlah, nilai transaksi juga menunjukkan tren positif. Sepanjang periode yang sama, nilai transaksi digital BTN mencapai Rp 27,6 triliun, atau tumbuh sekitar 11% yoy.
“Pertumbuhan ini mencerminkan pergeseran perilaku nasabah yang semakin mengandalkan transaksi digital dalam aktivitas sehari-hari,” ujar Thomas Wahyudi.
Peran Bale by BTN sebagai Kanal Utama
Dominasi transaksi digital BTN tidak lepas dari peran aplikasi super app Bale by BTN yang kini menjadi kanal utama nasabah. Aplikasi ini menawarkan berbagai fitur yang memudahkan pengguna dalam melakukan transaksi secara praktis dan efisien.
Mayoritas transaksi dilakukan melalui Bale by BTN, mencakup berbagai layanan seperti transfer BI-FAST, transfer antar rekening baik on-us maupun off-us, pembayaran QRIS, hingga transaksi rutin lainnya.
Selain itu, kebutuhan sehari-hari seperti pembelian token listrik, pembayaran air, serta top up dompet digital juga menjadi bagian dari transaksi yang paling sering dilakukan melalui aplikasi tersebut. Kemudahan akses dan kelengkapan fitur menjadi faktor utama yang mendorong tingginya penggunaan Bale by BTN.
Kontribusi terhadap Fee Based Income
Peningkatan aktivitas transaksi digital turut berdampak positif terhadap pendapatan berbasis komisi atau fee based income BTN. Seiring dengan meningkatnya frekuensi transaksi, kontribusi dari layanan digital terhadap pendapatan bank juga semakin besar.
Sebagai gambaran, sepanjang 2025 lalu, BTN mencatat pertumbuhan fee based income dari transaksi digital sebesar 12% yoy. Hal ini menunjukkan bahwa digitalisasi tidak hanya meningkatkan kenyamanan nasabah, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi kinerja keuangan perusahaan.
Dengan semakin banyaknya layanan yang terintegrasi dalam platform digital, potensi peningkatan pendapatan non-bunga pun semakin terbuka lebar bagi BTN di masa mendatang.
Target Ambisius hingga Akhir 2026
Melihat tren pertumbuhan yang terus meningkat, BTN optimistis kinerja transaksi digital akan terus berkembang sepanjang tahun ini. Perseroan menargetkan total transaksi digital dapat mencapai sekitar 300 juta transaksi hingga akhir 2026.
Dari sisi nilai, BTN juga mematok target yang cukup tinggi, yakni lebih dari Rp 165,7 triliun. Target ini mencerminkan keyakinan perusahaan terhadap potensi pertumbuhan layanan digital di tengah perubahan perilaku masyarakat.
Untuk mencapai target tersebut, BTN akan terus memperkuat berbagai aspek pendukung, mulai dari pengembangan fitur hingga peningkatan kualitas layanan digital secara menyeluruh.
Strategi Penguatan Ekosistem Digital
Dalam upaya menjaga momentum pertumbuhan, BTN menyiapkan sejumlah strategi untuk memperkuat ekosistem digitalnya. Salah satu langkah utama adalah meningkatkan infrastruktur teknologi informasi guna memastikan layanan tetap stabil, aman, dan cepat.
Selain itu, BTN juga akan memperluas jaringan ekosistem merchant melalui kolaborasi dengan berbagai sektor. Kerja sama dengan pelaku UMKM, rumah sakit, hingga institusi pendidikan diharapkan dapat meningkatkan volume transaksi sekaligus memperluas jangkauan layanan.
Di sisi lain, program promosi tematik juga menjadi andalan untuk menarik minat nasabah dalam menggunakan layanan digital. Edukasi kepada nasabah turut dilakukan agar mereka semakin familiar dengan berbagai fitur yang tersedia.
Thomas Wahyudi menambahkan, sejumlah faktor akan menjadi pendorong utama pertumbuhan transaksi digital ke depan. Di antaranya adalah peningkatan penggunaan pembayaran non-tunai, ekspansi ekosistem digital, serta semakin beragamnya kebutuhan transaksi harian masyarakat.
Dengan strategi yang terarah dan dukungan teknologi yang terus diperkuat, BTN optimistis mampu mempertahankan tren pertumbuhan positif di sektor digital. Transformasi ini sekaligus menjadi langkah penting dalam menjawab tantangan industri perbankan yang semakin kompetitif di era digital.