HIMKI Optimalkan Skema P3DN untuk Perluas Dampak Pameran TEI 2026

Senin, 26 Januari 2026 | 12:17:14 WIB
HIMKI Optimalkan Skema P3DN untuk Perluas Dampak Pameran TEI 2026

JAKARTA - Pameran dagang internasional tidak lagi sekadar menjadi etalase promosi ekspor, tetapi juga dinilai penting sebagai penggerak integrasi pasar domestik.

Inilah sudut pandang yang ditekankan Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) dalam menyikapi penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) 2026. Organisasi ini mendorong pemanfaatan skema Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) serta business to government (B2G) agar manfaat pameran tidak hanya dirasakan pelaku ekspor, tetapi juga industri nasional secara lebih luas.

Dorongan tersebut sejalan dengan upaya memperkuat ekosistem industri mebel dan kerajinan Indonesia, yang dinilai memiliki potensi besar baik di pasar global maupun domestik jika didukung strategi pameran yang terintegrasi dan terarah.

TEI 2026 Dipandang sebagai Etalase Strategis Industri Nasional

Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur menegaskan bahwa TEI 2026 merupakan momentum penting bagi industri mebel dan kerajinan Indonesia untuk memperluas pasar. Pameran yang digelar oleh Kementerian Perdagangan ini dipandang sebagai panggung strategis untuk mempertemukan pelaku industri dengan pembeli potensial dari dalam dan luar negeri.

Menurut Abdul Sobur, TEI memiliki peran signifikan dalam mendorong permintaan pesanan baru, khususnya bagi produk kerajinan dan mebel domestik yang berbasis bahan alam. Tren global yang semakin mengapresiasi material natural dinilai menjadi peluang besar yang harus dimaksimalkan oleh pelaku industri nasional.

"Ajang TEI ini juga membuka peluang masuknya order baru, terutama menjelang Oktober, khususnya untuk produk berbasis material natural yang sedang naik kelas di pasar global,” ujar Abdul Sobur.

Pernyataan tersebut mencerminkan optimisme HIMKI terhadap kontribusi TEI dalam memperkuat daya saing produk nasional di tengah persaingan internasional yang kian ketat.

Usulan Zonasi Ketat untuk Tingkatkan Kualitas Interaksi Bisnis

Dalam rangka memaksimalkan efektivitas pameran, HIMKI turut menyampaikan sejumlah masukan kepada Kementerian Perdagangan. Masukan tersebut dibahas dalam pertemuan yang digelar di Jakarta pada 21 Januari 2026, yang secara khusus membicarakan pematangan konsep dan strategi penyelenggaraan TEI 2026.

Salah satu usulan utama HIMKI adalah penerapan strict zoning dengan pemisahan hall secara tegas berdasarkan kategori produk. Zonasi ini meliputi pemisahan antara produk makanan dan minuman, manufaktur, serta furnitur dan home decor.

Skema zonasi tersebut dinilai akan memudahkan buyer dalam menelusuri produk sesuai kebutuhan, sekaligus meningkatkan kualitas interaksi bisnis antara peserta pameran dan calon pembeli. Dengan alur pameran yang lebih tertata, potensi terjadinya transaksi dinilai akan semakin besar.

Dua Hall Furnitur Didorong Dikelola Langsung oleh HIMKI

Selain zonasi, HIMKI juga mengusulkan pengelolaan dua hall khusus furnitur yang sepenuhnya berada di bawah manajemen HIMKI. Langkah ini bertujuan memperkuat kurasi peserta pameran, sehingga produk yang ditampilkan benar-benar mencerminkan kualitas dan karakter industri mebel Indonesia.

Pengelolaan langsung oleh asosiasi juga diharapkan mampu menciptakan ekosistem pameran yang lebih tertib dan profesional. Selain itu, HIMKI melihat peluang untuk menerapkan skema harga maupun subsidi khusus bagi anggota, yang dapat mendorong partisipasi lebih luas dari pelaku industri kecil dan menengah.

Dengan pengelolaan yang lebih terarah, hall furnitur diharapkan tidak hanya menjadi ruang pamer, tetapi juga pusat interaksi bisnis yang produktif dan berkelanjutan.

TEI Diposisikan sebagai Kelanjutan IFEX untuk Jaga Permintaan Ekspor

HIMKI menilai penyelenggaraan TEI pada Oktober 2026 idealnya diposisikan sebagai bagian kedua dari Indonesia International Furniture Expo (IFEX) yang digelar pada Maret. Penempatan ini dipandang strategis untuk menjaga kesinambungan permintaan ekspor sepanjang tahun.

Khususnya bagi segmen furnitur outdoor, kesinambungan pameran dinilai krusial karena produk-produk tersebut umumnya membutuhkan waktu pengiriman pada periode Januari hingga Mei. Dengan pola pameran yang saling melengkapi, pelaku industri dapat merencanakan produksi dan pengiriman secara lebih optimal.

Pendekatan ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pemasok furnitur global yang konsisten dan mampu memenuhi kebutuhan pasar secara berkelanjutan.

P3DN dan B2G Dorong Integrasi Pasar Domestik

Untuk memperluas dampak pameran ke dalam negeri, HIMKI mendorong keterlibatan aktif instansi pemerintah, BUMN, dan pemerintah daerah sebagai potential buyer melalui skema P3DN/TKDN dan B2G. Dengan strategi ini, TEI diharapkan tidak hanya menjadi ajang promosi ekspor, tetapi juga sarana integrasi pasar nasional yang lebih kuat.

Abdul Sobur menambahkan bahwa inisiatif tersebut mencerminkan kolaborasi erat antara pelaku industri dan pemerintah dalam meningkatkan daya saing produk nasional. Sinergi ini dinilai penting untuk memperluas promosi, memperkuat hilirisasi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis ekspor.

Sebagai catatan, pada tahun 2025 Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebutkan bahwa Trade Expo Indonesia ke-40 berhasil mencatatkan 8.045 peserta dari 130 negara. Capaian tersebut menjadi fondasi penting bagi penyelenggaraan TEI berikutnya dalam mendukung visi pemerintah meningkatkan industrialisasi dan ekspor nasional melalui penguatan produk dalam negeri.

Terkini