Cegah Krisis Iklim, UNEP Serukan Transformasi Sektor Bangunan Dunia

TA
Talita Malinda

Editor: Yoga Susila Utama

Selasa, 02 Juni 2026
Cegah Krisis Iklim, UNEP Serukan Transformasi Sektor Bangunan Dunia
Sektor bangunan menyumbang 37 persen emisi CO2 global terkait energi, menurut laporan UNEP. (Sumber Foto: NET)

JAKARTA -  Sektor bangunan kini menjadi perhatian utama dalam isu perubahan iklim global karena emisi yang terus meningkat akibat pesatnya pembangunan perkotaan dan tingginya permintaan hunian.

Menanggapi fenomena ini, UNEP bersama GlobalABC mendesak percepatan transisi menuju perumahan berkelanjutan dan bangunan rendah karbon.

Dalam laporan Global Status Report for Buildings and Construction 2025-2026, UNEP menekankan bahwa sektor bangunan tidak hanya menjadi pemicu masalah iklim, tetapi juga menyimpan potensi besar sebagai solusi.

Direktur Divisi Perubahan Iklim UNEP, Martin Krause, menyatakan bahwa sebagian besar ruang bangunan di masa depan belum terbangun, sehingga keputusan saat ini akan sangat menentukan tingkat emisi, kesehatan masyarakat, serta kualitas hidup selama beberapa dekade ke depan.

“Solusi sebenarnya sudah tersedia, mulai dari efisiensi energi hingga integrasi energi terbarukan dan penggunaan material ramah lingkungan,” ujar Krause saat peluncuran laporan tersebut.

Direktur Eksekutif Buildings Performance Institute Europe, Oliver Rapf, menjelaskan bahwa sektor konstruksi memegang kontribusi besar terhadap ekonomi sekaligus lingkungan.

Sektor ini tercatat menyumbang sekitar 37 persen emisi CO2 global terkait energi, menggunakan sepertiga konsumsi energi dunia, serta bertanggung jawab atas hampir 50 persen ekstraksi material global.

Meskipun luas lantai bangunan dunia terus bertambah sekitar 1,7 persen setiap tahun—dengan 77 persen pertumbuhan disumbang sektor perumahan—temuan Global Buildings Climate Tracker menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.

Sejak 2015, emisi sektor bangunan justru naik 6,5 persen, padahal seharusnya turun 30 persen agar selaras dengan target Perjanjian Paris.

Laporan mencatat hanya kawasan Eropa yang berhasil menurunkan konsumsi energi bangunan melalui kebijakan efisiensi yang konsisten.

Sebaliknya, wilayah Asia Pasifik, Timur Tengah, Eurasia, dan Afrika Sub-Sahara masih mencatat kenaikan kebutuhan energi seiring masifnya pembangunan.

Meskipun pemanfaatan energi terbarukan meningkat 4,7 poin persentase sejak 2015, angka tersebut masih belum mencukupi target dekarbonisasi.

Selain itu, investasi tahunan sebesar US$270 miliar hingga US$300 miliar saat ini baru memenuhi sekitar dua pertiga dari kebutuhan dana hingga 2030.

Programme Officer GlobalABC, Hanane Hafraoui, menegaskan pentingnya membalik tren emisi melalui renovasi bangunan, standar efisiensi yang lebih ketat, serta desain pasif.

“Karena energi paling bersih adalah energi yang tidak perlu kami gunakan,” katanya.

Ia menambahkan, bangunan masa depan harus aktif terlibat dalam transisi energi melalui sistem elektrifikasi, penyimpanan energi, serta teknologi bangunan pintar guna mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Di Indonesia, penerapan green building terbukti mampu menekan biaya utilitas hingga 30–80 persen.

Namun, tantangan muncul dari pertumbuhan konsumsi energi bangunan yang diprediksi mencapai 40 persen pada 2030, serta lonjakan penggunaan pendingin ruangan.

Tanpa efisiensi, penggunaan pendingin ruangan yang diprediksi menjangkau 85 persen rumah tangga pada 2050 akan memicu emisi signifikan.

Penggunaan teknologi pendingin ruangan inverter terbukti mampu menghemat listrik hingga 28 persen dibandingkan tipe konvensional.

Arsitek pendiri Anakoma Studio, Yu Sing, menyarankan inspirasi dari arsitektur vernakular yang memanfaatkan material alami dan ventilasi silang.

Menurutnya, teknologi saja tidak cukup tanpa perencanaan kota yang ramah lingkungan.

“Pasang AC hemat energi, menggunakan material yang tepat, dan menghemat air memang penting. Namun harus didukung ruang hijau dan koridor vegetasi agar suhu lingkungan juga turun,” ujarnya.

Martin Krause menutup dengan menegaskan bahwa dekarbonisasi memerlukan kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, swasta, hingga lembaga keuangan.

Penerapan efisiensi sejak tahap desain dinilai jauh lebih ekonomis dibandingkan renovasi di kemudian hari.

Sektor bangunan pun dipastikan akan memainkan peran krusial dalam menciptakan hunian yang sehat, terjangkau, dan berkelanjutan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua