Hingga April 2026, Produksi Migas PHE Capai 945.000 Boepd

Aktivitas karyawan di PT Pertamina Hulu Energi (PHE) (FOTO: NET)
Penulis: Talita Malinda
Selasa, 26 Mei 2026 | 15:06:52 WIB

JAKARTA – PT Pertamina Hulu Energi (PHE) membukukan realisasi produksi minyak dan gas bumi (migas) sebesar 945.000 barrel oil equivalent per day (boepd) sampai April 2026.

Direktur Utama Pertamina Hulu Energi Awang Lazuardi menjelaskan secara rinci, hasil minyak domestik perusahaan sampai April 2026 menyentuh 367.000 barrel oil per day (bopd), sementara sumbangsih dari internasional sebesar 109.000 bopd. "Dengan demikian, untuk total produksi minyak PHE tercatat 475.000 bopd," kata Awang dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (25/5/2026).

Sementara itu, hasil gas bumi pada periode yang sama mencapai 2.722 juta kaki kubik standar per hari (million standard cubic feet per day/MMscfd).

Volume tersebut bersumber dari pasokan domestik sebesar 2.385 MMscfd dan lini internasional sebesar 337.000 MMscfd.

Secara kumulatif, realisasi volume produksi migas PHE hingga April 2026 menyentuh angka 945.000 boepd.

Pencapaian ini masih berada di bawah target yang ditetapkan perseroan untuk tahun ini sebesar 1,03 juta boepd.

Di samping itu, Awang memaparkan sejumlah hambatan operasional yang dihadapi sepanjang kuartal I/2026.

Ia memaparkan, kendala utama muncul di awal tahun pada Blok Rokan karena hambatan pasokan gas akibat gangguan integritas atau kebocoran pipa kepunyaan Transportasi Gas Indonesia (TGI).

Masalah teknis tersebut berlangsung selama lebih dari 20 hari dan memicu dampak besar terhadap merosotnya produksi minyak di wilayah kerja tersebut. “Average produksi minyak kami, terutama di Rokan, menurun cukup tajam,” katanya.

Bukan hanya itu, PHE turut menjumpai hambatan pada salah satu wilayah kerja domestik yang dioperasikan bersama ExxonMobil.

PHE mengalami keterbatasan pada fasilitas produksi di Lapangan Banyu Urip yang bertepatan dengan naiknya volume gas.

Dari operasional internasional, hambatan dipicu oleh penyetopan aktivitas di Lapangan West Qurna di Irak sebagai imbas ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Awang mengungkapkan, otoritas Irak sempat meminta operasional lapangan tersebut disetop sementara waktu beberapa hari pascapecahnya konflik. Menurutnya, penghentian kegiatan operasional itu memicu PHE kehilangan potensi produksi mendekati 100.000 bopd.

Kendati saat ini aktivitas produksi telah diperbolehkan kembali, tingkat kapasitas operasionalnya masih sangat terbatas.

Reporter: Talita Malinda