Pentingnya Membatasi Cas Baterai Kendaraan Listrik Maksimal 80 Persen

Ilustrasi. Pengisian ulang baterai mobil listrik menggunakan fast charging (FOTO: NET)
Penulis: Talita Malinda
Rabu, 03 Juni 2026 | 13:42:32 WIB

JAKARTA - Sejumlah pengguna kendaraan ramah lingkungan masih membawa kebiasaan lama layaknya mengisi penuh tangki bahan bakar saat melakukan pengisian daya.

Padahal, proses pengisian daya baterai pada mobil ataupun sepeda motor listrik idealnya tidak dibiasakan hingga mencapai kapasitas 100 persen.

Berdasarkan informasi dari Medcom, pembatasan dalam pengisian ini tergolong sangat penting, khususnya saat memanfaatkan fasilitas pengisian kilat seperti Ultra Fast Charging di tempat pengisian daya umum.

Tindakan ini hadir sebagai jalan keluar demi efisiensi waktu bagi tiap pemilik kendaraan masa depan tersebut.

Performa pengisian cepat pada baterai justru bakal merosot secara sangat tajam tatkala kapasitas dayanya sudah menginjak angka 80 persen.

Laju pengisian yang semula mampu menembus di atas 50 kWh per jam bakal anjlok hingga di bawah 10 kWh per jam sehabis melewati fase tersebut.

Situasi seperti ini jelas berbeda dengan pengisian bahan bakar minyak yang bisa memadati ruang tangki sampai kisaran 95 persen.

Head of Public Relation MG Motor Indonesia, Norman Nababan, memaparkan bahwa sistem pengisian daya listrik menuju komponen baterai tidaklah serupa dengan menuangkan zat cair ke dalam tempat penyimpanan.

Teknologi pengisian kilat bekerja lewat cara mengalirkan daya listrik guna melacak sel-sel baterai kosong yang belum terisi energi.

"Pada level 80 persen baterai terisi, energi yang akan mengisi cell baterai, akan mencari cell baterai yang kosong," ujar Norman beberapa waktu lalu.

"Ibaratnya, mobil sedang antre masuk ke sebuah area parkir yang mulai terisi 80 persen. Tentu akan mulai melambat untuk mencari area parkir yang kosong. Itu pula penyebab utama mengapa sistem fast charging atau pengisian cepat baterai di SPKLU itu hanya efektif sampai 80 persen saja."

Alasan berikutnya yang mendasari aturan pembatasan ini berhubungan langsung dengan faktor keselamatan sepanjang aktivitas pengisian daya berjalan.

Sistem pengurangan arus daya ini memang sengaja disiapkan guna menjamin baterai tetap dalam kondisi aman sewaktu dioperasikan oleh pengendara.

Kerusakan parah pada komponen baterai sangat berisiko terjadi apabila sistem pengisian tetap dipaksakan memakai arus tegangan tinggi sesudah melampaui batas maksimalnya.

“Jadi tetap akan diberlakukan cara aman untuk melakukan pengisian baterai. Mengingat secanggih-canggihnya teknologi kendaraan listrik, kalau tidak aman untuk digunakan maka orang-orang juga akan takut menggunakan kendaraan berteknologi tinggi ini.”

Reporter: Talita Malinda