Dukung Produksi Migas 2030, Pertamina Luncurkan Proyek Kandawulo
JAMBI - PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Jambi Merang secara resmi telah memulai proyek Survei Seismik Offshore 3D Kandawulo di kawasan perairan laut dalam.
Langkah eksplorasi di area laut dalam ini menjadi bagian krusial dari strategi nasional demi mengejar target produksi minyak bumi sebesar 1 juta barel per hari serta gas sebanyak 12 BSCFD pada tahun 2030 mendatang.
Pertemuan perdana atau Kick Off Meeting telah diselenggarakan di Balikpapan pada tanggal 22 Mei 2026, yang menjadi tanda dimulainya salah satu agenda survei seismik laut terdalam dan paling rumit yang kini tengah digarap oleh Pertamina di wilayah terbuka Indonesia.
Proyek ini terletak di South Kutai Basin dengan cakupan area operasional mencapai 2.500 kilometer persegi, di mana survei bakal menyasar kedalaman laut mulai dari 900 hingga 2.300 meter.
Target di bawah permukaan yang diincar berada pada tingkat kedalaman 2.000–3.500 milidetik, sebuah kawasan yang diyakini menyimpan cadangan hidrokarbon baru.
“Tujuan utama survei ini adalah memperoleh gambaran struktur bawah permukaan yang lebih detail untuk meningkatkan peluang penemuan cadangan migas baru,” demikian dijelaskan dalam paparan proyek.
Proses akuisisi data di lapangan dikerjakan dengan memakai kapal seismik HYSY 721 kepunyaan COSL yang berbendera Panama.
Kapal yang memiliki panjang lebih dari 107 meter tersebut dilengkapi dengan teknologi broadband marine streamer lewat konfigurasi 10 streamer yang masing-masing panjangnya mencapai 10 kilometer.
Melalui bentangan kabel bawah laut yang mencapai total 100 kilometer, armada ini berfungsi layaknya sebuah laboratorium terapung yang sanggup memetakan struktur geologi di laut dalam secara sangat presisi.
Kegiatan perekaman data atau recording ditargetkan mulai berjalan pada tanggal 2 Juni 2026 dan akan berlangsung sampai dengan akhir Agustus 2026.
Sebelum agenda tersebut dimulai, kapal HYSY 721 telah bertolak dari China dan bersandar di Indonesia pada tanggal 20 Mei 2026.
Agenda Survei 3D Kandawulo ini bukanlah sebuah proyek yang berdiri sendiri.
Aktivitas ini menjadi bagian dari kelanjutan roadmap Komitmen Kerja Pasti (KKP) Jambi Merang yang pada periode sebelumnya telah merampungkan berbagai survei seismik di penjuru Indonesia, mulai dari wilayah Bone-Tukang Besi, Buton, hingga kawasan Bone-Seram.
Pihak pemerintah bersama SKK Migas terus mendorong kegiatan eksplorasi di wilayah terbuka ini sebagai elemen pendobrak utama demi menemukan potensi migas baru, khususnya di area timur Indonesia yang datanya masih sangat terbatas.
Menjalankan operasional di kawasan laut lepas pastinya menghadirkan tantangan tersendiri.
Berdasarkan dokumen HSSE proyek, terdapat lima poin risiko utama yang menjadi fokus perhatian, antara lain: kecelakaan kerja personel di laut, aktivitas pengisian bahan bakar atau bunkering, tekanan tinggi dari peralatan teknis, insiden man overboard, hingga potensi tersangkutnya alat seismik pada rumpon milik nelayan.
Oleh karena itu, sistem pengamanan dalam proyek ini turut melibatkan banyak elemen, mulai dari personel TNI AL, Polairud, DKP Sulawesi Barat, hingga kelompok nelayan setempat.
Pihak Pertamina juga sudah melangsungkan agenda sosialisasi kepada jajaran pemerintah daerah beserta komunitas nelayan di wilayah Mamuju sejak bulan April hingga Mei 2026.
Hal yang cukup menarik, proyek besar ini juga mencatat adanya tindakan pemutusan sebanyak 124 unit rumpon di dalam area survei demi memastikan keselamatan dan keamanan jalannya operasi.
Seluruh rangkaian proses pencopotan tersebut dikerjakan di bawah pengawasan ketat dan terintegrasi dengan sistem digital berbasis “Smart”.
Di kala situasi produksi migas nasional sedang mengalami tren penurunan, kegiatan eksplorasi seperti proyek Kandawulo ini memunculkan secercah harapan baru.
Hasil data seismik 3D yang didapatkan nantinya bakal beralih fungsi menjadi peta panduan berharga bagi industri hulu migas dalam menetapkan titik lokasi pengeboran yang potensial.
Bila agenda ini berhasil mendeteksi keberadaan cadangan baru, maka proyek tersebut dapat bertransformasi menjadi salah satu pilar utama bagi pasokan energi nasional di masa depan.
Seluruh paparan mengenai proyek ini termuat secara resmi di dalam dokumen presentasi agenda Kick Off Meeting Survei Seismik Offshore 3D Kandawulo.
Di samping itu, PT Elnusa Tbk (IDX: ELSA) dikabarkan telah ditunjuk secara resmi sebagai pihak pelaksana dalam agenda Survei Seismik Offshore 3D Kandawulo tersebut.
Penugasan baru ini semakin memperkuat rekam jejak serta portofolio Elnusa di dalam sektor jasa hulu migas, selaras dengan kesuksesan perusahaan dalam menyelesaikan rentetan proyek seismik lainnya seperti OBN Zulu North di area Kepulauan Seribu, serta proyek seismik yang saat ini masih berjalan di Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah.