Penggunaan Gas Sebagai Jembatan Transisi Energi Indonesia
- Selasa, 05 Mei 2026
JAKARTA – Penggunaan gas bumi sebagai jembatan transisi energi di Indonesia menuai kritik karena dianggap berisiko memperpanjang ketergantungan pada energi fosil.
Narasi yang memposisikan gas sebagai solusi antara sering kali dianggap mengabaikan fakta bahwa emisi metana dari rantai pasok gas tetap memberikan dampak buruk pada iklim.
Bahlil berpendapat, bahwa transisi energi merupakan langkah yang tidak bisa ditawar lagi, namun strategi yang digunakan harus benar-benar menjamin keberlanjutan lingkungan jangka panjang tanpa terjebak pada ilusi bahan bakar fosil yang dianggap bersih.
Baca JugaPLN Luncurkan PLTS Mentari Nusantara I Kapasitas 1,225 Gigawatt
"Dampak El Nino ini nyata, jangan tunggu api membesar baru kita sibuk memadamkan," ujar Hanif Faisol, saat wawancara di tempat/gedung pada, Selasa (28/4/2026).
Membangun infrastruktur gas dalam skala besar dikhawatirkan akan memicu fenomena "carbon lock-in" yang mengunci Indonesia dalam ekonomi tinggi karbon untuk beberapa dekade mendatang.
Besarnya investasi yang terserap untuk proyek gas bumi seharusnya dapat dialihkan secara lebih progresif menuju pengembangan teknologi matahari, angin, atau panas bumi.
Pilihan ini menjadi krusial mengingat Indonesia memiliki potensi sumber daya energi terbarukan yang melimpah namun masih minim dalam hal implementasi nyata.
Gas bumi sering kali dipromosikan sebagai pendamping energi terbarukan yang bersifat intermiten untuk menjaga stabilitas beban listrik nasional.
Akan tetapi, biaya teknologi penyimpanan energi seperti baterai yang terus menurun secara global mulai menantang peran gas sebagai penyeimbang beban tersebut.
Terdapat risiko ekonomi berupa aset terbengkalai jika di masa depan kebijakan iklim global memaksa penghentian penggunaan seluruh jenis energi fosil secara mendadak.
Upaya mencapai target Net Zero Emission pada 2060 membutuhkan keberanian untuk melompat langsung ke energi bersih tanpa harus melalui jembatan fosil yang panjang.
Ketahanan energi nasional tetap menjadi prioritas, namun diversifikasi harus diarahkan pada kemandirian energi yang berbasis pada potensi lokal yang terbarukan.
Talita Malinda
Energika.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gerak Cepat PLN, Kurang dari 1 Jam Listrik Kembali Normal di GI Angke
- Jumat, 17 April 2026
Menekraf Sebut Aset Kripto Perkuat Komersialisasi Kekayaan Intelektual Ekraf
- Jumat, 10 April 2026











