Bamsoet Optimalkan Kerja Sama Migas RI-Rusia untuk Modernisasi Energi

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) (FOTO: NET)
Penulis: Talita Malinda
Selasa, 09 Juni 2026 | 15:03:50 WIB

JAKARTA - Anggota DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) mendorong peningkatan kemitraan di sektor minyak dan gas bumi (migas) antara Indonesia dan Rusia untuk memperkokoh ketahanan energi nasional.

Ia berpendapat bahwa hubungan bilateral Indonesia dan Rusia yang kian akrab dalam beberapa tahun terakhir mesti dimanfaatkan guna mematangkan kolaborasi jangka panjang, mulai dari penyediaan minyak mentah, pemutakhiran kilang, pendirian fasilitas penyimpanan energi, hingga alih teknologi serta investasi di sektor hulu dan hilir migas.

Bagi Bamsoet, perluasan kerja sama ini menjadi sangat krusial lantaran kebutuhan energi di dalam negeri terus melonjak selaras dengan laju pertumbuhan industri serta ekonomi nasional.

Berdasar data dari Kementerian ESDM, Indonesia saat ini masih mengalami defisit pasokan minyak yang cukup signifikan, sehingga aktivitas impor energi masih berstatus sebagai kebutuhan strategis.

Di lain pihak, Rusia berkedudukan sebagai salah satu negara produsen minyak dan gas terbesar di tingkat global yang mengantongi rekam jejak panjang dalam tata kelola energi.

"Kerja sama migas Indonesia dan Rusia harus ditempatkan sebagai kemitraan strategis yang saling menguntungkan. Indonesia membutuhkan investasi, teknologi, dan pasokan energi yang berkelanjutan, sementara Rusia memiliki pengalaman panjang sebagai salah satu produsen energi terbesar dunia. Kerjasama ini akan memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan daya saing industri dalam negeri," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Senin (8/6/2026).

Pernyataan tersebut dilontarkannya ketika menjamu kedatangan Ketua Business Council Russia-Indonesia, Mikhail Kuritsyn, di Jakarta pada Senin (8/6/26).

Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini menguraikan bahwa Indonesia menyimpan peluang yang sangat besar untuk mengoptimalkan kerja sama migas tersebut demi memacu modernisasi sektor energi domestik.

Sebab, sepanjang waktu ini Indonesia dinilai masih bergantung pada jalur impor dalam mencukupi sebagian dari total kebutuhan minyak serta LPG nasional.

Lewat langkah merangkul Rusia melalui metode government-to-government (G2G) ataupun business-to-business (B2B), Bamsoet menimbang Indonesia bakal mendapat kelegaan akses ke sumber energi yang lebih bervariasi sekaligus menekan risiko ketergantungan pada pasar tertentu saja.

Pada waktu bersamaan, pihak Rusia pun turut memperoleh akses menuju salah satu pasar energi terbesar serta paling potensial di kawasan Asia Tenggara.

"Diversifikasi sumber energi merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Ketika dunia menghadapi ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi harga energi, Indonesia harus memiliki banyak pilihan mitra strategis agar pasokan energi nasional tetap aman dan stabil. Rusia dapat menjadi salah satu pilar penting dalam strategi diversifikasi tersebut," kata Bamsoet.

Bamsoet memaparkan bahwa jalinan kerja sama migas pada era modern ini tidak boleh lagi dipandang sebatas aktivitas transaksi jual-beli minyak mentah konvensional.

Mayoritas negara yang dinilai sukses mengukuhkan ketahanan energinya umumnya merancang kemitraan yang mencakup bidang investasi, teknologi, penelitian, peningkatan mutu sumber daya manusia, hingga pembangunan infrastruktur penunjang.

Oleh sebab itu, Indonesia dipandang perlu memotivasi kerja sama yang berskala lebih lapang dengan jajaran korporasi energi Rusia yang sudah berpengalaman internasional dalam ranah eksplorasi, produksi, pengolahan, maupun distribusi energi.

"Indonesia harus mengambil manfaat sebesar-besarnya dari setiap kerjasama internasional. Yang kami kejar bukan sekadar pasokan energi, tetapi juga transfer teknologi, peningkatan kapasitas SDM nasional, serta investasi yang dapat memperkuat daya saing industri energi Indonesia dalam jangka panjang," pungkas Bamsoet.

Reporter: Talita Malinda