Jateng Surplus Listrik, Pakar SCU Desak Pembatasan PLTU

Senin, 18 Mei 2026 | 11:22:46 WIB
Jateng Surplus Listrik (FOTO: NET)

SEMARANG - Pemanfaatan Energi Baru Terbarukan (EBT) di wilayah Jawa Tengah dianggap masih sangat belum maksimal.

Pemerintah di tingkat daerah maupun pusat diminta untuk segera membatasi pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang menggunakan batu bara, lantaran ketersediaan daya listrik di wilayah ini sejatinya telah surplus atau melebihi kapasitas kebutuhan.

Pernyataan itu diutarakan oleh Pakar Lingkungan asal Universitas Katolik Soegijapranata (SCU) Semarang, Benny Danang Setianto.

Ia memberikan penekanan bahwa dengan situasi pasokan energi yang telah berlebih, meneruskan proyek pembangunan pembangkit berbahan bakar fosil sudah tidak relevan lagi dan malah menambah buruk dampak terhadap lingkungan.

"Saya tidak menentang langsung bahwa PLTU harus ditutup, tetapi please, perhatikanlah kondisi-kondisi semacam ini. Ya, kalau memang sudah kelebihan energi, ngapain dibangun lagi? Kalau perlu malah agak di-shutdown, mulai beralihlah ke energi-energi lain," ujar Benny saat memberikan keterangan setelah acara diskusi lingkungan di Pringsewu, Kota Lama Semarang, Sabtu (16/5/2026).

Benny sangat menyesalkan adanya pemikiran skeptis yang merasa cemas jika pasokan listrik tidak bakal cukup apabila ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dipangkas.

Berdasarkan pandangannya, Jawa Tengah mempunyai kelimpahan sumber energi alternatif yang luar biasa besar, namun posisinya sampai sekarang belum dikelola dengan sungguh-sungguh (underutilized).

Ia menjabarkan data mengenai potensi panas bumi (geotermal) di Jawa Tengah yang sejauh ini baru dimanfaatkan pada kisaran sembilan persen saja.

Bukan cuma panas bumi, potensi energi angin atau bayu yang tersebar luas di sepanjang garis Pantai Utara serta Pantai Selatan Jawa Tengah pun tampaknya kurang diperhatikan.

"Loh, enggak ada, enggak mungkin enggak mencukupi. Saya justru mengatakan tadi kami punya sumber-sumber energi lain yang masih underutilized. Loh, geotermal itu banyak banget. Kami baru 9 persen. Meskipun ada pro-kontra, semua tindakan kami kan punya konsekuensi terhadap alam, enggak mungkin (tidak ada dampak)," jelasnya.

Bukan hanya itu, ia juga mengkritik lambatnya transisi menuju energi angin yang proses perkembangannya berjalan di tempat selama beberapa tahun belakangan.

"Energi angin belum kami garap secara serius. Itu pembangkit listrik tenaga bayu itu di pinggiran-pinggiran pantai itu belum ada 1 persen total kalau data yang dikeluarkan kementerian sendiri loh, Kementerian ESDM tahun 2021, dan belum banyak berubah sampai sekarang," imbuh Benny.

Terkini