Laju Perakitan Tinggi, BYD Hadapi Kendala Pasokan Baterai Mobil

Minggu, 17 Mei 2026 | 10:01:48 WIB
BYD Seal terbakar di Palmerah (FOTO: NET)

JAKARTA - Perusahaan raksasa otomotif asal China, BYD, dikabarkan tengah kewalahan dalam mencukupi kebutuhan komponen paling krusial untuk armada kendaraan listriknya.

Pimpinan sekaligus Presiden BYD, Wang Chuanfu, secara terbuka membenarkan bahwa korporasi saat ini sedang membentur kendala serius berkaitan dengan keterbatasan pasokan baterai di dalam lini produksi mereka. Kondisi tersebut bergulir sebagai imbas dari masifnya agenda peluncuran bermacam model mobil listrik anyar secara serempak.

BYD saat ini tengah memacu kapasitas produksi (production ramp-up) untuk empat lini merek besar mereka sekaligus, yakni seri Dynasty, Ocean, sub-brand premium Denza, hingga lini merek mobil mewah mereka, Yangwang.

Dalam pidatonya di konferensi Yangwang Business Research Institute pada Jumat (15/5), Wang Chuanfu menerangkan bahwa kendati fasilitas pabrik baterai mereka sudah bekerja keras, volume kapasitas yang tersedia saat ini masih sangat ketat dan belum sanggup mengimbangi laju perakitan mobil. Namun, ia merasa optimistis bahwa angka penjualan bulanan BYD bakal terus mengukir rekor baru begitu pasokan baterai tambahan mulai didistribusikan ke pabrik perakitan.

Sejumlah pengamat industri di China memaparkan bahwa kelangkaan ini dipicu oleh sangat tingginya atensi dan permintaan konsumen terhadap jajaran mobil terbaru besutan BYD. Model-model anyar ini sudah mengadopsi paket Blade Battery generasi kedua yang menopang sistem pengisian daya ultra-cepat (ultra-fast charging), sebuah fitur yang bertransformasi menjadi daya pikat utama bagi konsumen saat ini.

“Teknologi Blade Battery generasi kedua dan sistem flash-charging ini baru saja resmi diluncurkan BYD pada 5 Maret lalu. Pabrikan mengklaim teknologi mutakhir ini mampu mengisi daya mobil dari 10% ke 70% hanya dalam waktu 5 menit, atau hingga 97% dalam waktu 9 menit saja pada kondisi yang mendukung,” tulis Carnewschina, Sabtu (16/5/2026).

Akan tetapi, teknologi pengisian kilat tersebut sempat menyulut perdebatan hangat di jagat maya China selepas sebuah agenda uji coba livestream memperlihatkan suhu permukaan baterai melonjak hingga di atas 76 derajat celsius tatkala pengisian daya berkecepatan tinggi dilangsungkan. Hal ini memantik diskusi panjang di kalangan konsumen berkaitan dengan tata kelola manajemen suhu serta faktor keamanan baterai.

Meskipun dihadapkan pada kendala pasokan di dalam negeri, skala produksi baterai BYD secara menyeluruh sejatinya tergolong sangat masif.

Di sepanjang April 2026, BYD tercatat telah mendistribusikan total baterai mencapai 20,98 GWh, yang membuat akumulasi pengiriman baterai mereka di sepanjang tahun ini menyentuh angka 81,2 GWh. Khusus untuk pasar domestik China, data dari China EV DataTracker memperlihatkan BYD berhasil mengintegrasikan baterai sebesar 10,49 GWh pada mobil listrik yang beroperasi di sana selama bulan April. Angka tersebut mengamankan 16,83% pangsa pasar baterai domestik dari total kapasitas terpasang secara nasional yang menyentuh 62,4 GWh.

Di sisi lain, demi menyokong ekosistem mobil listriknya, BYD konsisten memperluas jaringan infrastruktur pengisian daya. Hanya dalam rentang waktu satu minggu (7–14 Mei), BYD menambah 55 stasiun flash-charging baru, sehingga jumlah totalnya kini menembus 5.979 stasiun yang tersebar di 312 kota di China. Aplikasi pengisian daya khusus kepunyaan BYD pun saat ini telah melampaui lebih dari 1 juta pengguna aktif.

Tidak puas sekadar mendominasi pasar domestik, BYD juga konsisten melebarkan sayapnya ke panggung internasional. Wakil Presiden Eksekutif BYD, Stella Li, membeberkan bahwa perusahaan saat ini tengah menempuh pembicaraan serius dengan beberapa produsen otomotif Eropa demi memanfaatkan kapasitas pabrik yang belum terpakai di benua biru tersebut guna melokalisasi jaringan produksi mereka.

Menutup jalannya konferensi tersebut, Wang Chuanfu menegaskan bahwa para produsen mobil asal China saat ini tengah menapak pada periode emas terbaik dalam sejarah untuk membangun merek global. Ia juga mengimbuhkan bahwa separuh dari durasi waktu kerjanya sehari-hari kini difokuskan penuh demi merumuskan strategi teknologi serta produk masa depan supaya BYD tetap memimpin pasar global.

Halaman :

Terkini