JAKARTA - Ford Motor Company secara resmi mengumumkan pembentukan anak perusahaan barunya yang dimiliki sepenuhnya oleh pabrikan tersebut, yaitu Ford Energy.
Entitas baru ini bakal memfokuskan lini bisnisnya pada sektor pembuatan sekaligus pemasaran sistem penyimpanan energi baterai yang diproduksi di Amerika Serikat. Sasaran utama dari unit bisnis ini membidik perusahaan utilitas, pusat data (data center), serta konsumen industri skala besar.
Ford Energy memproyeksikan kapasitas produksi penyimpanan energi menyentuh angka 20 GWh per tahun melalui fasilitas gigafactory kepunyaannya di Kentucky.
Presiden Ford Energy Lisa Drake memaparkan bahwa pembentukan unit ini merupakan buah dari kesiapan yang matang sepanjang beberapa bulan belakangan. Perusahaan berupaya menyelaraskan kapasitas manufaktur mereka dengan lonjakan permintaan penyimpanan energi domestik.
"Tim kami telah menghabiskan sebagian besar tahun ini untuk mengeksekusi pengamanan rantai pasok, menyiapkan lokasi manufaktur, dan menyelaraskan teknologi kami dengan permintaan pasar," kata Lisa dilansir dari sumbernya, Sabtu (16/5/2026).
Pusat basis produksi Ford Energy sendiri berlokasi di Glendale, Kentucky. Pabrik tersebut mulanya dibangun untuk memproduksi baterai kendaraan listrik dalam kemitraan BlueOval SK, sebelum akhirnya diambil alih secara penuh oleh Ford guna dialihfungsikan.
Produk andalan yang dipasarkan adalah Ford Energy DC Block. Sistem tersebut berwujud unit kontainer standar berukuran 20 kaki yang menerapkan teknologi sel prismatik Lithium Iron Phosphate (LFP) dengan kapasitas 512 Ah. Pemanfaatan formula kimia LFP dipilih lantaran menyajikan stabilitas termal yang lebih prima serta siklus hidup lebih panjang jika disandingkan dengan baterai NMC. Ford Energy mengklaim bahwa produk ini dikonstruksikan supaya mempunyai masa pakai performa hingga 20 tahun.
Bila ditinjau secara teknis, Ford Energy DC Block mengantongi kapasitas energi terukur sebesar 5,45 MWh. Sistem ini bekerja pada rentang tegangan antara 1.040 hingga 1.500 VDC yang terintegrasi dengan manajemen termal cairan serta sistem manajemen baterai mandiri.
Unit ini ditawarkan dalam dua opsi konfigurasi, ialah FE-250 untuk sistem durasi dua jam dan FE-450 untuk durasi empat jam. Perangkat ini didesain tangguh agar sanggup beroperasi di lingkungan ekstrem dengan rentang suhu -35°C sampai +55°C. Ford pun melengkapi sistem ini memakai perlindungan korosi kategori C5 serta proteksi ingress IP55. Ketentuan spesifikasi itu memungkinkan unit tetap bekerja optimal di ketinggian hingga 4.000 meter tanpa mengalami penurunan performa atau derating.
Langkah strategis Ford ini menandai pergeseran fokus usai sebelumnya menghadapi tantangan kelebihan kapasitas baterai EV. Strategi tersebut diambil setelah Ford dan SK On membatalkan kemitraan BlueOval SK senilai US$11,4 miliar pada akhir tahun silam.
Ford Energy bakal bersaing ketat dengan Tesla yang saat ini mendominasi segmen penyimpanan energi melalui Megapack. Tesla tercatat telah menyebarkan 46,7 GWh penyimpanan energi pada 2025 dan tengah bersiap memproduksi Megapack 3 dalam volume besar.
Walau target 20 GWh milik Ford masih berada di bawah kapasitas produksi Tesla, pasar penyimpanan energi Amerika Serikat diprediksi bakal terus tumbuh signifikan. Penambahan kapasitas penyimpanan skala utilitas diestimasikan menyentuh 24 GW pada 2026 mendatang.
Pembangunan infrastruktur AI menjadi faktor pendorong utama dari permintaan ini. Pusat data diproyeksikan bakal menyerap hingga 83% dari penempatan penyimpanan energi komersial dan industri di belakang meteran pada tahun 2030.
Ford mengagendakan pengiriman pertama Ford Energy DC Block kepada para pelanggan pada akhir 2027. Perusahaan bertumpu pada aspek manufaktur domestik demi memfasilitasi kelayakan insentif pajak Investment Tax Credit bagi para pembeli di Amerika Serikat.