IPA Convex 2026: Kemitraan Global Kunci Ketahanan Energi Nasional

Rabu, 13 Mei 2026 | 11:55:49 WIB
Menuju Era Baru Migas (FOTO: NET)

JAKARTA - Indonesian Petroleum Association (IPA) memberikan penekanan pada krusialnya kerja sama internasional demi mempertahankan posisi tawar sektor hulu migas nasional di tengah persaingan investasi energi yang semakin dinamis.

Pernyataan tersebut diungkapkan dalam sesi jumpa pers menjelang perhelatan IPA Convex 2026 ke-50 yang dilaksanakan di Jakarta pada Selasa (12/6/2026). 

Menandai usia emasnya, ajang tahunan industri migas paling prestisius di tanah air ini diposisikan sebagai wadah kontemplasi sekaligus strategi dalam merumuskan visi ketahanan energi Indonesia di masa depan.

Mengangkat tajuk “50 Years of Energy Partnership: Shaping The Next Era for Advancing Growth”, gelaran IPA Convex 2026 dijadwalkan berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD pada Rabu (20/5/2026) hingga Jumat (22/5/2026).

 Tema ini merepresentasikan mendesaknya sinergi antara entitas internasional dan domestik dalam menjawab persoalan pendanaan, eksplorasi, serta adopsi teknologi energi paling mutakhir.

Chairperson IPA Convex 2026, Teresita Listyani, menjelaskan bahwa aliansi ini bukan sekadar pelengkap perayaan lima dekade organisasi, melainkan syarat mutlak bagi eksistensi industri energi di Indonesia.

“Partnership atau kemitraan menjadi sangat penting. Kami juga ingin merefleksikan apa yang sudah dilakukan selama ini, belajar dari masa lalu, sekaligus melihat tantangan dan relevansi industri hulu migas saat ini dan masa depan,” ujar Teresita.

Teresita memaparkan bahwa problematika sektor energi di dalam negeri kini kian kompleks, terutama menyangkut aspek finansial, daya investasi, hingga penguasaan teknologi tingkat tinggi untuk pengembangan ladang migas.

 Ia menilai mayoritas sumber migas di Indonesia saat ini memiliki tingkat kesulitan pengembangan yang tinggi, sehingga membutuhkan transfer pengetahuan dan teknologi dari mitra global.

“Kolaborasi perusahaan energi lokal dan perusahaan energi global tentunya mengenai financing, kemampuan investasi, dan juga teknologi yang digunakan untuk eksplorasi, pengembangan lapangan, serta produksi,” kata Teresita saat menjawab Investortrust.

Teresita menambahkan bahwa operasional eksplorasi menuntut modal yang sangat besar serta memiliki profil risiko yang tinggi, sehingga sulit bagi perusahaan untuk bergerak tanpa adanya mitra.

“Eksplorasi adalah kegiatan yang membutuhkan biaya tinggi dan juga risiko tinggi, dan tidak banyak perusahaan yang bisa melakukannya. Dengan adanya expertise global, itu akan membantu menemukan penemuan signifikan untuk kemandirian energi,” tegasnya.

Direktur Eksekutif IPA, Marjolijn Wajong, menyebutkan bahwa rivalitas antarnegara dalam memikat investor energi saat ini berada pada level yang sangat kompetitif.

“Disrupsi rantai pasok, dinamika kawasan, serta kompetisi global membuat banyak negara memperebutkan investasi di sektor energi,” ujarnya.

Menurut pengamatannya, Indonesia harus konsisten memoles daya tarik investasi melalui kepastian payung hukum serta model bisnis yang menguntungkan. 

Marjolijn pun menyoroti kebijakan otoritas yang memprioritaskan alokasi minyak mentah untuk kebutuhan dalam negeri demi memperkokoh kedaulatan energi nasional.

 Ia menilai strategi tersebut tetap berpijak pada asas keseimbangan agar tidak merugikan pihak Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang mengelola wilayah kerja migas.

Agenda IPA Convex 2026 dirancang untuk merespons kekhawatiran industri terhadap perubahan peta energi dunia melalui sesi pleno yang membedah posisi Indonesia di tengah geopolitik global. 

Pertemuan ini akan mendalami dampak percepatan transisi energi dan ketegangan regional terhadap kebijakan nasional, serta menghadirkan diskusi tingkat tinggi antara pakar dan pimpinan perusahaan energi. 

Selain fokus pada sisi komersial, IPA Convex 2026 juga bertujuan membangun jembatan komunikasi dengan publik agar masyarakat lebih memahami kontribusi besar sektor hulu migas terhadap stabilitas ekonomi.

Terkini