Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Minyak dan Laba Raksasa Migas

Selasa, 12 Mei 2026 | 10:31:24 WIB
Raksasa migas AS dan Inggris diperkirakan meraup keuntungan hingga miliaran dolar (FOTO: NET)

JAKARTA – Berbagai perusahaan minyak dan gas bumi (migas) global berhasil mencetak keuntungan besar menyusul konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran. 

Situasi peperangan tersebut turut menjadi pemicu melambungnya harga minyak mentah di pasar internasional.

Mengutip laporan BBC pada Senin (11/5/2026), harga minyak mentah standar internasional, Brent, mengalami kenaikan sebesar 3,8 persen hingga menyentuh angka 105,20 dolar AS per barel. 

Di saat yang sama, minyak mentah yang diperdagangkan di pasar Amerika Serikat juga meningkat 4 persen ke level 99,30 dolar AS per barel.

Ketidakpastian akibat perang di kawasan Timur Tengah serta aksi Iran menutup Selat Hormuz telah memicu kenaikan biaya hidup yang membebani sektor korporasi, rumah tangga, hingga anggaran pemerintah. 

Di kala sejumlah perusahaan berada di ambang kebangkrutan, perusahaan lain yang bisnis utamanya diuntungkan oleh situasi perang atau fluktuasi harga energi justru membukukan pendapatan rekor.

Sejauh ini, lonjakan harga energi menjadi dampak ekonomi terbesar dari peperangan tersebut. 

Hambatan pengiriman yang terjadi di Selat Hormuz sejak akhir Februari lalu mengakibatkan fluktuasi harga yang sangat tajam di pasar energi, yang pada akhirnya memberikan keuntungan bagi deretan perusahaan migas terbesar dunia.

Aramco, raksasa migas asal Arab Saudi, melaporkan pertumbuhan laba kuartal pertama 2026 sebesar 26 persen menjadi 33,6 miliar dolar AS, meningkat dari capaian tahun sebelumnya yang sebesar 26,6 miliar dolar AS.

 Lonjakan ini didukung oleh operasional penuh jalur pipa utama yang memungkinkan perusahaan menghindari hambatan di Selat Hormuz.

“Jalur Pipa Timur-Barat kami, yang telah mencapai kapasitas maksimum 7 juta barel minyak per hari, telah terbukti menjadi jalur pasokan penting, membantu mengurangi dampak guncangan energi global dan memberikan bantuan kepada pelanggan yang terkena dampak kendala pengiriman di Selat Hormuz,” ujar CEO Aramco, Amin Nasser dalam sebuah pernyataan.

Selain Aramco, beberapa raksasa migas asal Eropa juga membukukan kenaikan laba pada tiga bulan pertama tahun ini. Laba British Petroleum (BP) melonjak lebih dari dua kali lipat mencapai 3,2 miliar dolar AS. 

Sementara itu, Shell mencatat laba bersih pada kuartal I 2026 melesat hingga 6,92 miliar dolar AS.

Raksasa migas internasional lainnya, TotalEnergies, juga melaporkan lonjakan laba hampir sepertiga menjadi 5,4 miliar dolar AS pada kuartal pertama 2026. 

Pertumbuhan ini didorong oleh tingginya volatilitas di pasar minyak dan energi global.

Di sisi lain, pendapatan perusahaan migas asal AS seperti ExxonMobil dan Chevron justru mengalami penurunan jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu akibat gangguan pasokan dari Timur Tengah.

 Meski demikian, para analis memprediksi keuntungan kedua perusahaan tersebut akan kembali tumbuh seiring berjalannya tahun, mengingat harga minyak masih bertahan di level yang jauh lebih tinggi dibandingkan saat awal pecahnya perang.

Terkini