Kawasan IMIP Bangun PLTS 200 MWp Dukung Teknologi Industri Hijau

Selasa, 12 Mei 2026 | 09:50:45 WIB
PLTS kawasan IMIP bakal bangun kapasitas 200 MWp. ( Sumber : NET )

MOROWALI – Guna menyokong program Pemerintah Indonesia dalam mencapai Net Zero Emission (NZE) pada 2060 atau lebih awal, jajaran perusahaan di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) konsisten menerapkan prinsip keberlanjutan.

 Langkah ini ditempuh melalui pengutamaan efisiensi sumber daya serta minimalisasi dampak lingkungan di setiap proses produksi, khususnya melalui transisi dari energi fosil ke energi terbarukan (EBT).

PT IMIP, selaku pengelola kawasan industri mineral terintegrasi, terus memacu penggunaan teknologi hijau melalui pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). 

Saat ini, salah satu tenant di kawasan tersebut, yakni PT Sumber Energi Surya Morowali (Sesmo), tengah bersiap membangun PLTS dengan kapasitas mencapai 200 MWp.

Deputi Direktur Operasional PT IMIP, Yulius Susanto, menjelaskan bahwa PLTS memproduksi listrik dari tenaga surya tanpa proses pembakaran bahan bakar fosil. 

Hal ini membuat emisi karbon operasionalnya jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan pembangkit diesel atau batu bara.

 Selain itu, inisiatif tersebut merupakan respons terhadap kebijakan pemerintah dalam mempercepat pemanfaatan energi bersih.

“Pembangunan PLTS di PT Sesmo dengan luas lahan 224 ha, berkapasitas 200 MWp dan penyimpanan baterai 80 Mw, untuk mendukung teknologi energi bersih menuju industri yang berkelanjutan,” kata Yulius Susanto, Senin (11/5/2026).

Fasilitas PLTS ini diposisikan sebagai sumber energi tambahan untuk mengurangi ketergantungan pada pembangkit berbasis batu bara secara bertahap. 

Listrik yang diproduksi akan dialokasikan bagi kebutuhan operasional pabrik dan perkantoran PT Sesmo. 

Melalui skema pemakaian mandiri dan penyaluran surplus, pemanfaatan energi surya diharapkan lebih optimal sekaligus membantu stabilitas kelistrikan di kawasan IMIP.

Pemanfaatan energi surya ini diprediksi mampu memangkas konsumsi batu bara hingga puluhan ribu ton per tahun, sekaligus menekan emisi sulfur dioksida dan nitrogen oksida.

Langkah ini sekaligus memperkuat kinerja lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) perusahaan sebagai indikator daya saing di pasar global.

Ke depannya, ekspansi PLTS di kawasan IMIP diproyeksikan terus berkembang seiring kemajuan teknologi penyimpanan energi. 

Peningkatan porsi energi terbarukan ini diharapkan membawa struktur industri menuju sistem yang lebih rendah karbon.

Sebagai catatan, beberapa tenant di kawasan IMIP sebelumnya telah menerapkan teknologi serupa, seperti PLTS kanal Fatufia (1,27 MWp), PLTS Atap PT DSI (65,89 MWp), serta rencana pembangunan PLTS PT QMB New Energy Materials (6 MWp).

 Selain itu, terdapat pengembangan PLTU Co-Generation yang dikelola oleh PT DSI dan PT HYNC.

“PLTS bukan sekadar pembangkit listrik alternatif, tetapi instrumen strategis transisi energi modern. Bagi industri, PLTS penting bukan hanya karena “hijau”, tetapi karena energi bersih mulai menjadi syarat ekonomi masa depan. Perusahaan yang lambat beradaptasi berisiko tertinggal dalam efisiensi, investasi, dan akses pasar internasional,” tegas Yulius Susanto.

Terkini