MALANG – Lambatnya pengembangan energi terbarukan dianggap memperparah efek krisis iklim yang saat ini mulai dirasakan secara langsung oleh masyarakat Indonesia.
Fenomena bencana hidrometeorologi, mulai dari banjir bandang hingga cuaca ekstrem, dinyatakan sebagai bukti nyata dari perubahan iklim yang kian meningkat.
“Indonesia sebenarnya telah mengalami ribuan bencana yang berkaitan dengan perubahan iklim sepanjang tahun lalu secara nasional.
Banjir besar di Sumatera menjadi contoh dampak serius ketika upaya pengurangan emisi dan transisi energi berjalan lambat sekarang.
Bencana akibat perubahan iklim diperkirakan semakin sering terjadi apabila Indonesia tidak segera mempercepat penggunaan energi terbarukan nasional.
Peningkatan suhu global serta tingginya emisi karbon disebut memperbesar ancaman kerusakan lingkungan dan keselamatan masyarakat di berbagai daerah,” ungkap Jeri Asmoro, Digital Campaigner 350 Indonesia, Sabtu (9/05/2026).
Bukan hanya ancaman bagi lingkungan, penundaan transisi energi juga dianggap mengancam ketahanan energi nasional Indonesia untuk jangka panjang.
Ketergantungan pada energi fosil memicu kerentanan Indonesia terhadap guncangan ekonomi global, khususnya fluktuasi harga minyak dunia yang drastis.
“Subsidi bahan bakar minyak yang terus meningkat ini membebani anggaran negara sehingga mengurangi alokasi sektor pembangunan lainnya nasional.
Dana besar yang digunakan menjaga stabilitas energi seharusnya dapat dimanfaatkan memperkuat pendidikan, kesehatan, maupun kesejahteraan masyarakat luas.
Indonesia sebelumnya dikenal sebagai negara pengekspor minyak dan pernah tergabung dalam organisasi eksportir minyak dunia atau OPEC dahulu.
Namun sekarang berubah, karena kebutuhan konsumsi energi nasional jauh lebih besar dibandingkan kemampuan produksi dalam negeri sekarang,” tambahnya.
Kondisi yang sama diprediksi akan menimpa sektor batu bara jika Indonesia tidak lekas beralih ke energi terbarukan yang berkelanjutan secara nasional.
Cadangan batu bara milik Indonesia tercatat hanya sekitar tiga persen dari total dunia, padahal volume ekspornya termasuk salah satu yang terbesar di tingkat global sampai saat ini.
“Beberapa negara tujuan ekspor batu bara justru memiliki cadangan energi lebih besar dibandingkan Indonesia saat ini.
Jika kami terus bergantung pada ekspor energi fosil, dikhawatirkan semakin bergantung terhadap pasokan energi negara lain kedepannya,” tegasnya.
Di sisi lain, publik mulai memperlihatkan ketertarikan untuk memakai energi terbarukan, misalnya panel surya, guna memenuhi kebutuhan listrik rumah tangga tiap hari.
Akan tetapi, mahalnya biaya instalasi serta minimnya akses informasi masih menjadi hambatan bagi mayoritas masyarakat Indonesia sekarang.
“Dukungan pemerintah sangat penting memperluas penggunaan energi terbarukan agar literasi masyarakat berkembang lebih cepat nasional.
Gerakan masyarakat sipil dinilai belum cukup apabila tidak dibarengi kebijakan pemerintah yang serius mendukung transisi energi berkelanjutan Indonesia,” pungkasnya.