JAKARTA - Data Ember Energy menunjukkan batu bara masih mendominasi produksi listrik dunia sepanjang 2026 dengan kontribusi mencapai hampir sepertiga total pembangkitan.
Laporan terbaru mencatat bahwa percepatan pembangunan infrastruktur energi bersih belum mampu meruntuhkan posisi bahan bakar fosil sebagai pilar utama kelistrikan di berbagai negara.
"Porsi itu menjadikan batu bara sebagai sumber tunggal terbesar, melampaui masing-masing kontribusi energi rendah karbon secara individual," sebagaimana dikutip dari naskah sumber asli, Senin (4/5/2026).
Mutiara Nabila berpendapat bahwa ketergantungan pada sumber daya konvensional ini dipicu oleh kebutuhan mendesak akan biaya energi yang lebih kompetitif dan stabil.
Secara kumulatif, kelompok bahan bakar fosil termasuk gas alam masih menguasai sekitar 57% dari bauran energi global.
Gas alam sendiri menempati urutan kedua dengan persentase 21,77%, disusul oleh tenaga air yang menyumbang 14%.
Sektor energi rendah karbon kini mulai menunjukkan taji dengan kontribusi kolektif menyentuh angka 43%.
Fenomena menarik terlihat pada tenaga surya yang porsinya mencapai 8,7%, sedikit lebih unggul dibandingkan tenaga angin sebesar 8,5%.
Meskipun pertumbuhannya masif, teknologi surya dan angin masih terkendala faktor cuaca sehingga belum bisa menggantikan peran nuklir sepenuhnya.
Negara-negara berkembang menjadi motor utama yang mempertahankan penggunaan batu bara demi mendukung pertumbuhan ekonomi dan permintaan daya yang melonjak.
Transisi menuju energi hijau diperkirakan akan memakan waktu hingga beberapa dekade ke depan sebelum mampu menggeser posisi emas hitam tersebut.