JAKARTA – Kesiapan energi nuklir Indonesia kini memasuki babak baru dengan penekanan utama pada transparansi publik dan penguatan sistem mitigasi risiko bencana nasional.
Wacana pemanfaatan tenaga atom sebagai sumber listrik mulai menunjukkan progres yang serius lewat pembentukan organisasi pelaksana program energi nuklir nasional.
Fahmy Radhi berpendapat, bahwa pembangunan PLTN di tanah air tidak boleh terburu-buru tanpa adanya kajian geologis yang mendalam mengenai titik koordinat wilayah rawan gempa.
"Pembangunan PLTN membutuhkan transparansi tinggi, terutama terkait dengan aspek keselamatan dan mitigasi risiko bencana, mengingat Indonesia berada di wilayah ring of fire," ujar Fahmy Radhi, saat wawancara di tempat/gedung pada, Kamis (30/4/2026).
Penerimaan masyarakat lokal terhadap teknologi ini masih menjadi tantangan besar yang harus diselesaikan melalui edukasi berkelanjutan.
Faktor biaya investasi yang sangat besar juga menuntut adanya skema pendanaan yang transparan agar tidak membebani anggaran pendapatan dan belanja negara.
Pemerintah menargetkan operasional unit pertama dapat terealisasi pada dekade mendatang untuk menyokong kebutuhan beban dasar listrik yang stabil.
Kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia ahli menjadi fondasi utama sebelum konstruksi fisik benar-benar dimulai di lokasi terpilih.