JAKARTA – Pemilik kendaraan perlu waspada karena fenomena cuaca panas ekstrem percepat proses degradasi baterai yang berdampak pada penurunan performa jangka panjang.
Kondisi lingkungan dengan suhu tinggi yang melanda wilayah perkotaan belakangan ini memberikan beban kerja tambahan pada sistem pendingin.
Komponen kimia di dalam sel penyimpanan daya cenderung mengalami ketidakstabilan jika terus-menerus terpapar panas matahari.
"Dampak cuaca ekstrem terhadap kendaraan listrik sangat nyata, terutama pada kesehatan baterai yang menjadi jantung dari performa kendaraan tersebut," ujar Hendro Sutono, Pengamat otomotif dan pegiat kendaraan listrik, sebagaimana dilangsir dari berbagai sumber, Rabu (29/4/2026).
Hendro Sutono berpendapat, bahwa memarkir kendaraan di tempat yang teduh dapat menjadi langkah sederhana namun efektif untuk meminimalisir risiko kerusakan sel secara prematur.
Pengisian daya saat suhu lingkungan sedang mencapai titik tertinggi juga sangat tidak disarankan.
Panas yang dihasilkan dari proses pengisian akan terakumulasi dengan suhu lingkungan yang sudah tinggi.
Hal ini dapat memicu pemuaian pada material internal baterai secara mikro.
Pengguna kendaraan diharapkan lebih sering memeriksa kondisi sistem manajemen termal melalui aplikasi pemantau yang tersedia.
Degradasi yang berlangsung cepat akan mengurangi jarak tempuh maksimal kendaraan secara signifikan dalam hitungan bulan.
Beberapa produsen otomotif mulai menyematkan teknologi isolasi panas yang lebih tebal pada paket baterai terbaru mereka.
Langkah mitigasi ini menjadi penting agar kepercayaan masyarakat terhadap kendaraan ramah lingkungan tetap terjaga di tengah tantangan iklim.