NEW YORK – Pasar energi kembali memanas setelah harga minyak mentah naik 3 persen hingga menyentuh angka 99,93 dolar AS per barel akibat pengetatan pasokan global.
Kenaikan ini menjadi sorotan utama pelaku pasar karena terjadi dalam waktu yang sangat singkat.
Lonjakan permintaan di sektor transportasi global memberikan tekanan tambahan pada persediaan yang ada.
"Kenaikan harga minyak mentah sebesar 3 persen ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap keseimbangan pasokan dan permintaan yang semakin tidak stabil," ujar John Kilduff, analis di Again Capital, sebagaimana dilangsir dari berbagai sumber, Rabu (29/4/2026).
John Kilduff berpendapat bahwa pergerakan harga menuju angka 100 dolar AS per barel merupakan respons alami atas data persediaan yang terus menyusut.
Pasokan minyak di gudang penyimpanan utama dilaporkan berada pada level terendah dalam 5 tahun terakhir.
Beberapa negara pengekspor minyak utama dikabarkan belum mampu meningkatkan kapasitas produksi secara maksimal.
Faktor ketidakpastian politik di wilayah penghasil energi masih menjadi pendorong dominan dalam pembentukan harga.
Pelaku industri mulai mengantisipasi kenaikan biaya operasional akibat tren penguatan komoditas energi ini.
Harga bensin di pasar domestik beberapa negara diprediksi akan segera mengikuti arah pergerakan minyak mentah.
Dolar AS yang menguat secara bersamaan menambah beban bagi negara-negara importir energi netto.
Para pengamat ekonomi memantau ketat potensi inflasi yang mungkin timbul dari lonjakan harga energi ini.