DUBAI – Keputusan mengejutkan UEA keluar dari OPEC menjadi sinyal perubahan peta energi global yang dapat mempengaruhi kuota produksi dan stabilitas pasar minyak mentah.
Langkah strategis ini menandai berakhirnya keanggotaan negara teluk tersebut dalam aliansi yang telah bertahan selama puluhan tahun.
Ketegangan mengenai batas produksi minyak mentah disebut menjadi pemicu utama keretakan hubungan diplomatik energi ini.
"Keputusan ini mencerminkan keinginan kami untuk memaksimalkan potensi sumber daya nasional dan mendukung strategi pertumbuhan jangka panjang yang lebih fleksibel," ujar Suhail Al Mazrouei, Menteri Energi UEA, sebagaimana dilangsir dari berbagai sumber, Rabu (29/4/2026).
Suhail Al Mazrouei berpendapat bahwa kemandirian dalam menentukan volume ekspor akan memberikan ruang fiskal yang lebih luas bagi pembangunan infrastruktur dalam negeri.
Banyak pihak mengkhawatirkan langkah ini akan memicu persaingan harga yang tidak terkendali di antara produsen utama dunia.
Suhail Al Mazrouei juga menekankan bahwa fokus negara kini beralih pada penguatan investasi di sektor energi baru dan terbarukan.
Peningkatan kapasitas produksi hingga 5 juta barel per hari menjadi target ambisius yang ingin dicapai dalam beberapa tahun mendatang.
Para pelaku pasar energi internasional kini sedang mencermati respons dari negara anggota lainnya seperti Arab Saudi dan Rusia.
Fluktuasi harga minyak di bursa global langsung terasa sesaat setelah pengumuman resmi ini dirilis ke publik.
Mundurnya salah satu produsen terbesar ini diyakini akan melemahkan posisi tawar kolektif organisasi dalam mengatur suplai global.
Pergeseran kepentingan ekonomi nasional kini tampak lebih mendominasi dibandingkan komitmen menjaga solidaritas dalam kartel minyak.