JAKARTA – Bank Dunia memproyeksikan adanya kenaikan harga energi global secara signifikan hingga 24 persen pada 2026 akibat dinamika geopolitik dan ekonomi.
Lembaga keuangan internasional tersebut mencermati adanya risiko besar yang berasal dari eskalasi konflik di Timur Tengah.
Kondisi tersebut diperkirakan memicu gangguan rantai pasokan minyak mentah dunia dalam skala yang cukup luas.
"Jika eskalasi konflik meluas, dampaknya bisa memicu lonjakan harga minyak global yang pada gilirannya menaikkan biaya energi secara keseluruhan," ujar Ayhan Kose, Wakil Kepala Ekonom Bank Dunia, sebagaimana dilansir dari berbagai sumber, Rabu (29/4/2026).
Indeks harga komoditas secara umum diperkirakan tetap berada di level yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata sebelum pandemi.
Ayhan Kose berpendapat bahwa tekanan inflasi dari sektor energi akan memberikan tantangan berat bagi kebijakan moneter di banyak negara berkembang.
Proyeksi kenaikan 24 persen ini didasarkan pada asumsi berlanjutnya pembatasan produksi oleh negara-negara eksportir minyak utama.
Faktor transisi energi hijau yang belum merata juga turut memberikan andil pada ketidakpastian harga di pasar fisik.
Permintaan gas alam cair di wilayah Asia dan Eropa diprediksi tetap kuat sepanjang periode tersebut.
Sektor industri manufaktur kemungkinan besar harus menghadapi penyesuaian biaya operasional yang membengkak akibat tren ini.
Pemerintah di berbagai negara disarankan untuk mulai memperkuat cadangan energi domestik guna memitigasi dampak guncangan harga.
Stabilitas ekonomi global sangat bergantung pada bagaimana otoritas merespons fluktuasi harga komoditas strategis ini.