Program Kampung Nelayan Dorong Peluang Baru Industri Asuransi Nasional

Program Kampung Nelayan Dorong Peluang Baru Industri Asuransi Nasional
Program Kampung Nelayan Dorong Peluang Baru Industri Asuransi Nasional

JAKARTA - Upaya pemerintah dalam memperkuat sektor kelautan dan perikanan tidak hanya berdampak pada peningkatan kesejahteraan nelayan, tetapi juga membuka ruang baru bagi pertumbuhan industri lain, termasuk asuransi. 

Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) yang tengah digencarkan dinilai memiliki potensi besar dalam membangun ekosistem ekonomi baru yang membutuhkan perlindungan risiko secara menyeluruh.

Dengan cakupan program yang luas dan menyasar ribuan wilayah pesisir, kehadiran KNMP menjadi momentum penting bagi pelaku industri asuransi untuk memperluas penetrasi pasar. Di sisi lain, kompleksitas risiko di sektor kelautan justru menuntut inovasi produk serta kolaborasi lintas sektor agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal.

Baca Juga

IHSG Menguat Jelang Long Weekend Didorong Sentimen Global dan Domestik

Target Ambisius Pembangunan Kampung Nelayan Hingga 2029

Presiden RI Prabowo Subianto menargetkan membangun 5.000 Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) hingga 2029. Sementara itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan pembangunan 1.000 KNMP di berbagai wilayah Indonesia pada 2026.

Program ini dirancang untuk memperkuat infrastruktur, meningkatkan produktivitas nelayan, serta menciptakan pusat ekonomi berbasis kelautan yang lebih terintegrasi. Dengan skala pembangunan yang besar, berbagai aktivitas ekonomi di dalamnya akan semakin berkembang, mulai dari penangkapan ikan hingga distribusi hasil laut.

Peluang Besar Asuransi dari Ekosistem Nelayan

Mengenai hal itu, Pengamat Asuransi Wahyudin Rahman mengatakan program 5.000 KNMP dapat menjadi peluang besar bagi industri asuransi. Dia menyebut ekosistem nelayan mencakup aset seperti kapal dan alat tangkap, aktivitas ekonomi, hingga risiko jiwa dan kesehatan bisa menjadi peluang bagi industri untuk menyediakan proteksi.

"Dengan basis ribuan kampung, potensi penetrasi premi cukup signifikan, terutama untuk micro insurance dan asuransi berbasis komunitas," ungkapnya kepada Kontan, Rabu (1/4).

Potensi ini tidak hanya berasal dari jumlah kampung yang besar, tetapi juga dari beragam kebutuhan perlindungan yang muncul seiring meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.

Tantangan Implementasi di Lapangan Masih Besar

Namun, Wahyudin menerangkan peluangnya bersifat long term play dan sangat tergantung pada literasi, serta dukungan subsidi dari pemerintah.

Meski menjadi peluang, dia menyebut terdapat juga beberapa tantangan bagi industri asuransi untuk masuk ke sektor tersebut. Dia bilang tantangannya ada pada rendahnya literasi asuransi, keterbatasan daya beli, data risiko yang minim, serta karakter risiko yang tinggi baik cuaca dan kecelakaan laut.

"Selain itu, distribusi dan akses di wilayah pesisir juga menjadi kendala. Dengan demikian, perlu pendekatan ekosistem dan kolaborasi," tuturnya.

Tantangan ini menunjukkan bahwa ekspansi ke sektor nelayan tidak bisa dilakukan secara konvensional, melainkan membutuhkan strategi yang lebih inklusif dan adaptif terhadap kondisi lokal.

Ragam Produk Asuransi yang Relevan untuk Nelayan

Lebih lanjut, Wahyudin menyampaikan produk asuransi yang sesuai untuk kampung nelayan, antara lain mencakup asuransi kecelakaan diri bagi nelayan, asuransi jiwa mikro, perlindungan atas kapal dan alat tangkap, asuransi hasil tangkapan berbasis parametrik atau cuaca, asuransi rumah dan bencana, serta asuransi kesehatan yang dapat terintegrasi atau menjadi pelengkap Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

Keberagaman produk ini menjadi bukti bahwa sektor kelautan memiliki kebutuhan perlindungan yang kompleks dan membutuhkan pendekatan yang komprehensif dari industri asuransi.

Peran OJK dalam Mendorong Dukungan Industri Asuransi

Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai program pembangunan kampung nelayan berpotensi menjadi peluang bagi industri asuransi.

"Pada prinsipnya, industri asuransi siap mendukung berbagai program pembangunan pemerintah dengan menyediakan solusi perlindungan risiko bagi masyarakat," ungkap Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono dalam lembar jawaban RDK OJK.

Dalam konteks itu, Ogi menyampaikan asuransi dapat berperan sebagai pengelola risiko yang memberikan perlindungan terhadap berbagai aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk sektor kelautan dan perikanan.

Dengan demikian, dia berharap keberadaan asuransi dapat mendukung keberlanjutan usaha masyarakat, serta meningkatkan ketahanan ekonomi para pelaku usaha nelayan.

Melalui sinergi antara pemerintah, regulator, dan pelaku industri, program Kampung Nelayan Merah Putih diharapkan tidak hanya menjadi motor penggerak ekonomi pesisir, tetapi juga membuka peluang baru bagi pertumbuhan industri asuransi yang lebih inklusif dan berkelanjutan di Indonesia.

Mazroh Atul Jannah

Mazroh Atul Jannah

Energika.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

BI Sebut QRIS Cross Border Jadi Kunci Kerja Sama Indonesia dan Korea Selatan

BI Sebut QRIS Cross Border Jadi Kunci Kerja Sama Indonesia dan Korea Selatan

OJK Dorong Implementasi POJK Asuransi Kesehatan Berjalan Lancar dan Optimal

OJK Dorong Implementasi POJK Asuransi Kesehatan Berjalan Lancar dan Optimal

Update Harga Emas Pegadaian Hari Ini 2 April 2026 Naik Antam Tembus Rp3 Juta per Gram

Update Harga Emas Pegadaian Hari Ini 2 April 2026 Naik Antam Tembus Rp3 Juta per Gram

Update Daftar Lengkap Harga Emas Perhiasan Hari Ini 2 April 2026 Cek Semua Karat

Update Daftar Lengkap Harga Emas Perhiasan Hari Ini 2 April 2026 Cek Semua Karat

Simak Rekomendasi Saham 2 April 2026 Saat IHSG Berpotensi Melanjutkan Penguatan

Simak Rekomendasi Saham 2 April 2026 Saat IHSG Berpotensi Melanjutkan Penguatan